Musala di Perkampungan Warga Hindu

Musala di Perkampungan Warga Hindu
Musala di Perkampungan Warga Hindu. Foto Indra Mufarendra/Radar Malang/JPNN.com

Yang menarik, bahkan umat Hindu di sekitar musala juga penuh toleransi. Mereka tak jarang ikut membantu kegiatan sosial musala seperti bersih-bersih maupun ketika membangun.

Sore itu (28/5), belasan anak-anak terlihat bersemangat mengikuti kegiatan mengaji di musala berukuran sekitar 7×7 meter itu. Dengan tertib, anak-anak menanti giliran untuk setoran bacaan Alquran di depan guru ngajinya.

Anak-anak perempuan setor bacaan pada Nur Hasanah. Sementara yang laki-laki setor bacaan pada Khotimatul Khusnah. Sesekali, terdengar suara canda tawa khas anak-anak.

Ya, seperti itulah rutinitas yang biasanya muncul setiap sore di Musala Miftahul Jannah. Setidaknya empat hari dalam sepekan.

Yakni, Senin, Selasa, Rabu, dan Sabtu.
Geliat umat muslim di Dusun Kebon Kuto, Desa Sukodadi, mulai muncul sejak 1988 silam. Seiring dengan berdirinya Musala Miftahul Jannah di desa tersebut.

Pendiri musala itu adalah (alm) Pa’i, salah seorang tokoh masyarakat di Dusun Kebon Kuto.

”Bapak saya dulunya mualaf. Karena melihat di sini tidak ada tempat ibadah untuk umat muslim, bapak mewakafkan tanahnya untuk dibangun musala,” kata Karto, putra (alm) Pa’i.

Untuk pembangunannya, mereka dibantu warga sekitar dan juga donatur. Meski sudah ada musala, TPQ baru ada dua dekade setelah itu.

Laporan Tim Jelajah Pesantren di Kampung Minoritas Radar Malang (Jawa Pos Group) ke Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News