Musala di Perkampungan Warga Hindu

Musala di Perkampungan Warga Hindu
Musala di Perkampungan Warga Hindu. Foto Indra Mufarendra/Radar Malang/JPNN.com

Karto menyadari bahwa anak-anak Dusun Kebon Kuto butuh tempat untuk belajar agama. ”Sebelumnya, untuk mengaji, mereka harus berjalan jauh ke dusun sebelah,” ujar dia.

Pada 2012, Karto lantas menemui Fatkhur Rahman, warga Dusun Jamuran, Desa Sukodadi. Amin –sapaan akrab Fatkhur Rahman– lebih dulu membuka TPQ di Dusun Jamuran.

Gayung bersambut, dari pertemuan itu, mereka langsung membuka TPQ di Musala Miftahul Jannah.

Amin mengungkapkan, TPQ Musala Miftahul Jannah murni proyek sosial. Sebab, para pengajarnya bertugas secara sukarela. Pun demikian, anak-anak yang belajar di TPQ itu tidak dipungut iuran sepeser pun.

Barangkali karena keterbatasan modal itulah, TPQ ini sempat hanya eksis selama dua tahun. Pada awal 2014, TPQ itu vakum. ”Kami kesulitan mendapatkan tenaga pengajar,” ujar dia.

Sampai kemudian, pada awal 2017, Amin menggandeng delapan penyuluh agama Islam Kecamatan Wagir.

”Mereka mengajar secara bergiliran. Setiap hari, ada dua orang yang mengajar,” jelas dia.

Saat ini, TPQ Musala Miftahul Jannah memiliki 15 murid. Mereka berusia antara 6–10 tahun. ”Seluruhnya merupakan siswa sekolah dasar (SD). Mulai dari kelas I–V,” ujar dia.

Laporan Tim Jelajah Pesantren di Kampung Minoritas Radar Malang (Jawa Pos Group) ke Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News