Negara Tak Urus Cabai

Negara Tak Urus Cabai
Negara Tak Urus Cabai

Memang musim lagi tak berketentuan. Para pakar menyebutnya anomali. Okelah. Tetapi bukankah anomali musim belum beringsut pada 2011? Australia yang selama ini didominasi gurun, memasuki 2011 justru dilanda banjir besar yang berkepanjangan. Artinya, masih terbuka kemungkinan di tahun ini.

Namun di balik logika lurus sang ibu menteri, mungkin beliau melupakan logika kaum spekulan. Bagi mereka, spekulasi bukan tindakan untung-untungan. Tetapi dengan perhitungan yang matang. Bahkan turunnya pasokan cabai di beberapa daerah merupakan peluang untung yang besar, karena ada alasan untuk mengatrol harga.

Hanya dengan bertelepon dengan mitra bisnisnya, yang sudah terjalin sejak lama, maka dalam hitungan jam berton-ton cabai akan mengalir dari daerah surplus ke daerah minus. Untungnya besar, karena harga yang dibeli dari petani malah tidak ikut naik.

Bukan tak mungkin cabai dari Sulawesi "terbang" ke Jakarta atau ke pulau lain. Agustus 2010 lalu, gejala ini sudah terjadi, sampai-sampai pemesan datang memborong langsung kepada petani.

PEMERINTAHAN kita makin gemar melakoni pepatah orang Minangkabau. Habis cakak, takana silek. Usai berkelahi, teringat jurus silat. Apa gunanya lagi,

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News