Minggu, 20 Mei 2018 – 17:10 WIB

Nomaden Digital, Fenomena Baru Warga Asing di Bali

Jumat, 09 Februari 2018 – 10:00 WIB
Nomaden Digital, Fenomena Baru Warga Asing di Bali - JPNN.COM

Sarah Hill menemukan gaya hidup nomaden digital secara tidak sengaja.

"Saya selesai kuliah dan berpikir akan mendapatkan pekerjaan di kota, tapi hal itu tidak terjadi," ujar perempuan Australia ini.

Sebagai gantinya, perancang grafis dan website berusia 30 tahun asal Cronulla itu, bekerja sebagai manajer merek untuk sekolah memasak. Ia belakangan mengurangi jam kerjanya dan mengambil kerja sampingan. Dia mampu menghidupi dirinya, namun mendapati hampir tidak mungkin menambung di Sydney.

"Saya lihat harga sewa di Sydney sangat sulit sebagai jomblo," ujarnya lagi.

"Mencoba menabung untuk beli properti begitu sulitnya," katanya.

Ketika Sarah Hill pindah ke Noosa untuk tinggal bersama ayahnya demi menghemat uang sewa, ternyata dia tidak perlu berada di kota yang sama dengan klien-kliennya.

Dalam dua tahun terakhir, dia telah menghabiskan waktu di Thailand, Vietnam, Spanyol, Inggris dan Bali, bekerja lepas dari tempat kerja bersama sesekali dan kemudian pindah ke lokasi berikutnya.

"Saya pikir saya tidak bisa lagi kembali bekerja penuh untuk orang lain," katanya.

Nomaden digital

Di Dojo Bali, sebuah ruang kerja bersama di pulau yang paling banyak dikunjungi di Indonesia, ada papan pengumuman yang dipenuhi oleh tempelan catatan multi-warna.

Masing-masing catatan itu mengiklankan keahlian, layanan atau kebutuhan anggota tertentu - termasuk dari Sarah Hill.

"Pertumbuhan hacking", "tutorial mata uang crypto" dan "pemasaran media sosial" adalah beberapa contoh layanan yang mencolok.

Members working at Dojo Bali co-working space in Canggu
Para pekerja digital nomad di Dojo co-working space di Bali.

Nat Kassel

Tempat ini salah satu dari setidaknya 10 ruang kerja bersama yang telah dibuka di Bali.

Dojo Bali secara khusus melayani "nomaden digital" - pengusaha dan pekerja lepas yang dapat bekerja secara online dari manapun di dunia. Karena pekerjaan semakin terdesentralisasi, pindah ke pulau tropis yang murah seperti Bali lebih menarik bagi mereka yang memiliki keahlian khusus di bidang teknis.

Kebebasan

Outside Dojo Bali
Dojo Bali merupakan salah satu tempat kerja bersama atau co-working di Pulau Dewata.

Nat Kassel

Dojo Bali adalah persilangan antara kantor modern yang trendi dan sebuah resor di Bali. Ada tanaman, bantal duduk berwarna-warni dan perabotan kayu. Ruangnya terbuka, dengan serangkaian meja bersama, dua ruang konferensi, tiga bilik privat untuk Skype, sebuah kafe dan kolam renang. Pantai terletak tak jauh dari situ.

Ruang ini memiliki 300 hingga 470 anggota aktif pada waktu tertentu. Biayanya sekitar $ 300 sebulan atau $ 20 untuk satu hari.

Warga asal Amerika merupakan pengguna paling umum, disusul Australia, Inggris dan Jerman. Orang Indonesia berada di urutan keenam. Anggota umumnya bekerja untuk klien di negara asal mereka atau negara lain.

Michael Craig, seorang pengusaha asal Perth, mendirikan Dojo Bali dua tahun lalu, karena kecewa dengan perusahaan perangkat lunaknya sendiri.

Michael Craig portrait
Michael Craig mendirikan tempat kerja bersama di Bali setelah usahanya di Perth terlalu membuatnya stress.

Supplied: Dojo

"Saya bekerja banting tulang kemudian saya menutupnya karena stres. Saya datang ke Bali untuk gaya hidup yang lebih santai," kata Craig.

"Banyak orang meninggalkan negaranya karena mereka merasa seperti robot dalam cangkang kecil suatu perusahaan," ujarnya.

Bagi Michael Craig, mengejar gaya hidup nomad digital sebagian terkait urusan eksistensial.

"Bila Anda berhasil, lalu apa?" tanyanya.

"Dari apa yang saya tahu dari orang yang datang ke tempat itu, lebih berupa mengubah hal yang penting bagi mereka. Mereka mendapatkan pengalaman dan mereka tidak perlu memiliki rumah dan mereka tidak membutuhkan materi," katanya.

"Akhirnya, saya pikir hal itu menyangkut kebebasan," ujar Michael Craig.

Sarah Newland works next to the pool in Canggu
Sarah Newland seorang ahli gizi dan konsultan yang kerap bekerja dari pinggir kolang renang di Canggu.

Nat Kassel

Di bawah sinar matahari

Rasa kebebasan inilah yang menarik perhatian Sarah Newland, ahli gizi berusia 37 tahun dari Torquay. Sarah meninggalkan klinik di Melbourne untuk didirikan di Bali, kebanyakan bekerja dengan ekspatriat lokal dan berkonsultasi dengan klien di luar negeri melalui Skype.

"Semua barang-barang materi itu tidak lagi menarik bagiku," katanya.

"Saya lebih suka kehidupan di bawah sinar matahari, melakukan apa yang saya sukai nyaris tanpa beban berat dan bebas," katanya.

"Sangat normal sekarang menjadi konsultan online untuk seseorang yang belum pernah Anda temui," katanya.

"Saya senang hidup di era dimana hal ini dimungkinkan karena saya pasti tidak suka terjebak di sebuah klinik di Melbourne," ujar Sarah Newland.

Ayok portrait in home
Ayok seorang pelatih selancar dan pemilik usaha guesthouse keluarga di Canggu.

Nat Kassel

Penduduk setempat

I Gede Arya Eka Wira Dharma - dikenal sebagai Ayok - seorang pelatih selancar berusia 24 tahun yang keluarganya tinggal di Canggu selama beberapa generasi.

Bagi dia dan ayahnya yang petani dan nelayan, perkembangan di wilayah Canggu mengkhawatirkan.

"Saya sangat khawatir, karena saya lahir tahun 1994 dan tahu bagaimana Canggu telah berubah sepanjang hidup saya," kata Ayok.

"Dengan banyaknya orang datang, akan berdampak baik dan buruk," katanya.

"Jika mereka mendukung usaha lokal, itu yang terbaik. Tapi sebagian besar bisnis di sini dimiliki oleh orang Barat," ujar Ayok.

Micahel Craig sependapat. "Ada pembangunan yang tidak terkendali di sini," katanya.

Dia beralasan bahwa meski ruang kerja bersama membawa orang-orang baru, namun bukan berarti mendatangkan lebih banyak orang ke Bali.

Ayok tidak terlalu peduli dengan orang asing yang datang ke Bali untuk bekerja secara online karena mereka tidak mengambil pekerjaan orang Bali.

"Bagus karena mereka bisa menghabiskan uang di sini dan tinggal di tempat sini dalam jangka panjang," kata Ayok.

"Tapi sebagian besar yang saya lihat banyak orang Barat bekerja sebagai freelancer tapi tidak online. Mereka bekerja sebagai pemandu selancar," katanya.

Ayok menjalankan kursus selancar sendiri dan keluarganya memiliki wisma kecil. Bersaing dengan usaha asing merupakan ancaman langsung. Dia mengatakan pantai kini dikuasai sekolah selancar asing dan uangnya tidak mengalir ke warga setempat.

"Mereka tidak mendukung usaha kecil kami dan mereka mengambil semua siswa. Kami tidak mendapatkan apapun," katanya.

"Saat ini, mereka hanya membayar parkir (di pantai), yaitu 2000 rupiah. Tak ada artinya," tambah Ayok.

"Pariwisata bagus dan buruk pada saat bersamaan. Intinya bagaimana menemukan keseimbangan," tutur dia.

Memberi

Beberapa komunitas nomaden digital berusaha mengimbangi dampak kehadiran mereka dengan mengerjakan proyek terkait berbagai persoalan di Bali. Salah satu contohnya adalah Proyek Desa Hijau Perenan, berupa pengelolaan limbah di utara Canggu yang ingin mereka terapkan di seluruh Bali.

Pendiri proyek tersebut, Sean Nino, mendekati anggota Dojo untuk membantu membangun website, menyusun prosedur standar, membuat aplikasi dan penggalangan dana untuk proyek tersebut.

Menurut Michael Craig, ini merupakan bagian penting dari gaya hidup nomaden digital.

"Jika Anda berhasil dan punya waktu untuk berbagi, salurkan usaha Anda ke hal lain sehingga memiliki lebih banyak tujuan," jelasnya.

"Jangan merasa karena Anda berkulit putih, memiliki pendidikan dan punya laptop seharga $ 5000 kemudian berhak datang ke negara di mana warganya kurang beruntung dibanding Anda dan melibas semua orang," ujarnya.

"Ada banyak ketimpangan kesejahteraan dan saya pikir semua orang di sini melihat hal itu. Mereka melihatnya di seluruh dunia. Terjadi ketidakadilan," tambah Michael Craig.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.

 
SHARES
Komentar