Selasa, 17 Juli 2018 – 22:26 WIB

Pagi Ini Mbah Marijan Dimakamkan

Kamis, 28 Oktober 2010 – 05:59 WIB
Pagi Ini Mbah Marijan Dimakamkan - JPNN.COM

Jenazah Mbah Marijan. Foto: M Syukron Up Amin/Radar Jogja

JOGJA - Mulai kemarin (27/10), Gunung Merapi yang disebut-sebut sebagai gunung berapi paling aktif di dunia itu tak lagi dijaga juru kunci yang sangat legendaris, Mbah Marijan. Sosok berumur 83 tahun yang bergelar Mas Panewu Surakso Hargo tersebut ditemukan meninggal di kamar pribadi kediamannya di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman.

Jasad yang diyakini Mbah Marijan itu ditemukan kemarin (27/10) pukul 06.30 oleh para relawan dari tim SAR dan PMI. Saat ditemukan, tubuhnya tertimbun abu Merapi. Setelah diangkat, posisinya dalam keadaan bersujud. Diperkirakan, Mbah Marijan terkena semburan awan panas pukul 17.45.

Evakuasi jenazah Mbah Marijan agak sulit dilakukan. Sebab, medan yang harus dilalui tertutup pohon-pohon tumbang dan abu vulkanik setebal 30 sentimeter yang saat itu masih panas. Oleh para relawan, jasad Mbah Marijan langsung dibawa ke RSUP dr Sardjito untuk diidentifikasi lebih lanjut. Lafal tahlil selalu didengungkan para evakuator saat mengangkat jenazah Mbah Marijan, mulai dikeluarkan dari kamarnya hingga menuju ambulans.

Keyakinan bahwa jasad yang sedang bersujud itu adalah Mbah Marijan disampaikan Asih, anaknya. "Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiun," tutur Asih kepada Radar Jogja (Grup JPNN) setelah menerima kabar penemuan bapaknya oleh relawan dan tim SAR.

Berita meninggalnya Mbah Marijan tersebut membuat istri, anak, menantu, serta cucu-cucunya shock. Di kediaman Agus Wiyarto, salah seorang kerabat dekat Mbah Marijan, di Jalan Kaliurang, mereka memanjatkan doa untuk sang juru kunci. "Subhanallah. Mbah Marijan mudah-mudahan khusnul khatimah," ujar Agus yang selalu mendampingi Asih.

Ucapan belasungkawa terus mengalir dari kerabat, sanak saudara, dan teman melalui handphone yang dibawa Asih. Setelah dirapatkan, keluarga memutuskan akan melaksanakan salat jenazah pukul 16.00. Waktu itu dipilih karena menunggu kedatangan Widodo, anak Mbah Marijan yang selama ini tinggal di Jakarta.

Pukul 16.05, Widodo dan istrinya tiba di rumah Agus. Isak tangis mengiringi kedatangan Widodo. Pria berkacamata tersebut menangis sejadi-jadinya di depan ibunya. Sementara itu, istrinya berpelukan dengan Murni, menantu Mbah Marijan. Pemandangan sore itu pun penuh haru.

Setelah itu, keluarga dibawa dengan tiga mobil menuju RS Sardjito. Setiba di rumah sakit, mereka langsung menuju tempat jasad Mbah Marijan disemayamkan. Semula, keluarga akan menyalati jenazah Mbah Marijan di masjid rumah sakit itu. Namun, rencana tersebut berubah setelah pihak rumah sakit belum mengizinkan Mbah Marijan dibawa keluar. Keluarga pun menunggu. Kepada Radar Jogja, Asih menyampaikan permintaan maaf kepada siapa pun yang pernah bertemu dan berhubungan dengan Mbah Marijan.

"Saya mewakili keluarga menyampaikan permohonan maaf bila ada salah yang dilakukan bapak," ungkap Asih dengan suara parau. Dia mengungkapkan, bapaknya akan dimakamkan di Pangukrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Lokasi itu berjarak sekitar dua kilometer di bawah Kinahrejo. Pemakaman dilaksanakan pukul 10.00 hari ini (28/10).

Masyarakat yang ingin ikut menyalati jenazah Mbah Marijan diberi kesempatan hingga pukul 09.00 pagi ini. Sebab, sejak kemarin hingga pukul 09.00 hari ini, jasad Mbah Marijan berada di rumah sakit. Setelah pukul 09.00, jenazah almarhum dibawa ke Pangukrejo untuk dimakamkan. (uki/jpnn/c5/kum)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar