Pangan dan Energi Dinilai sebagai Ancaman Negara ASEAN

Pangan dan Energi Dinilai sebagai Ancaman Negara ASEAN
EKONOMI - Menko Ekonomi Hatta Rajasa bersama Wamendag Mahendra Siregar dalam jumpa pers di sela-sela KTT ASEAN di JCC, Jumat (6/5) kemarin. Foto: Arsito/JPNN.
JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memasukkan masalah pangan dan energi sebagai isu utama yang harus diperhatikan oleh negara-negara ASEAN. Dalam pidato pembukaannya di KTT ASEAN (ASEAN Summit) ke-18, Sabtu (7/5) pagi, di Balai Sidang Jakarta (JCC), SBY menegaskan bahwa persoalan pangan dan energi tersebut sangat krusial.

SBY antara lain memaparkan bahwa jumlah penduduk dunia secara global, diprediksi akan tumbuh pesat dari 7 miliar jiwa yang ada saat ini, menjadi 9 miliar jiwa pada tahun 2045. Dengan pertumbuhan demikian pesat menurutnya, maka diprediksi jika negara-negara di dunia akan menghadapi kompetisi untuk memperoleh sumber-sumber pangan mereka.

"Saat ini saja, kita sudah menghadapi harga pangan dan energi yang sangat fluktuatif, cenderung meningkat di pasar dunia. Karena itu, perlu kerjasama nyata di antara negara ASEAN (untuk menghadapinya)," ujar SBY.

Sehubungan dengan itu, salah satu langkah cepat yang perlu diambil, menurut SBY, adalah dengan melaksanakan ASEAN Integrated Food Security Framework (Kerangka Kerja Ketahanan Pangan Terpadu) secara komprehensif. Terutama dalam wujud penelitian dan pengembangan, begitu juga investasi dalam bidang pangan.

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memasukkan masalah pangan dan energi sebagai isu utama yang harus diperhatikan oleh negara-negara

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News