Parah! Anak 5 Tahun Dipaksa Puaskan Nafsu Pedofilia

Parah! Anak 5 Tahun Dipaksa Puaskan Nafsu Pedofilia
Ilustrasi. Foto:pojoksatu.id

Pada usia belia, bocah hingga remaja sudah piawai melakukan berbagai macam adegan intim dan beraksi di depan kamera yang terhubung dengan internet. Di negara lain, seorang pedofilia menikmati tayangan itu. Ya..itulah gambaran pornografi anak online yang tengah melanda Filipina.

Contohnya, Rosalyn, 17.  Sekilas, dia seperti kebanyakan remaja. Namun, di balik sikap tegarnya, Rosalyn memiliki kisah masa kecil yang kelam. Dia adalah korban pornografi online. Orang tuanya yang menjerumuskan Rosalyn dan kakak perempuannya.

Kemiskinan akut yang mendera membuat orang tua Rosalyn kehilangan akal. Ketika ada tetangga yang memberikan saran untuk memperoleh uang dengan cara mudah, mereka menerima begitu saja.Cara mudah yang dimaksud adalah melelang Rosalyn dan kakaknya kepada para pedofilia.

''Mereka menjual kami kepada pelelang tertinggi,'' ungkap Rosalyn.

Dia yang saat itu masih berusia 11 tahun tidak harus tidur dengan pedofilia yang memenangi lelang. Setelah uang ditransfer ke rekening orang tuanya, Rosalyn dan kakaknya harus melakukan adegan vulgar secara online.

Si pemenang lelang memerintah Rosalyn untuk melakukan adegan tidak senonoh apa pun yang mereka inginkan untuk dilihat. Rosalyn terbilang mujur. Polisi mengendus tindakan orang tuanya. Enam tahun lalu polisi menyerbu rumahnya.

Dia dan enam saudaranya diselamatkan. Orang tuanya lantas ditahan. Kini mereka bertujuh tinggal di rumah perlindungan yang disediakan pemerintah.

Pornografi anak di Filipina memang sangat parah. Negara itu masuk jajaran pertama penyedia pornografi anak secara global. Anak-anak yang bahkan masih berusia lima tahun kerap dipaksa melakukan adegan pornografi secara online beberapa kali dalam sehari di depan kamera.

Mereka dijual kepada beberapa pedofilia yang ingin melihat di berbagai belahan dunia secara online. Mayoritas yang menjual tentu saja adalah orang tua mereka sendiri.

''Bisnis ini difasilitasi ayah, ibu, ataupun saudara dekat mereka (korban, Red). Itu bisa saja terjadi di rumah mereka sendiri. Ini benar-benar perbudakan anak karena anak-anak tidak memiliki pilih­an,'' ujar Kepala UNICEF Filipina Lotta Sylwander.

Kadang kala dalam beberapa kasus anak-anak itu dijual orang di luar keluarganya. Ada pula yang dijual anak-anak lain yang sebelumnya menjadi korban.

 Dia menjelaskan bahwa bisnis itu memang kejam, tetapi tidak pernah mati karena menghasilkan perputaran uang miliaran dolar.Anak-anak yang diperdayai kadang hanya menerima 150 peso atau setara Rp 43 ribu untuk sekali ''show.''

 Setiap bulan pemerintah Filipina memperoleh laporan tujuh ribu kejahatan cyber. Separonya terkait dengan kekerasan dan pelecehan terhadap anak-anak. Delapan di antara sepuluh anak di Filipina terancam mengalami pelecehan.

Booming-nya penjualan layanan streaming adegan vulgar anak-anak di Filipina bukan hanya karena faktor kemiskinan. Saat ini banyak penduduk Filipina yang fasih berbicara dalam bahasa Inggris.Akses internet di negara yang memiliki 7.107 pulau itu juga sangat bagus sehingga memungkinkan koneksi tanpa terputus.

Di sisi lain, sistem transfer uang juga cukup mumpuni. Sebab, selama ini banyak warga Filipina di luar negeri yang mengirimkan penghasilannya ke negaranya. Sistem transfer yang sama dipakai para pedofilia itu untuk mengirimkan uang kepada para penjual layanan video pornografi anak-anak di Filipina. (Reuters/Daily Mail/sha/c14/any/flo/jpnn)



Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News