JPNN.com

Partai Berkarya Ajak Difabel Berwirausaha dan Mandiri

Jumat, 22 Maret 2019 – 20:34 WIB Partai Berkarya Ajak Difabel Berwirausaha dan Mandiri - JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Sejak berdiri dua tahun lalu, Partai Berkarya membuka kesempatan kepada semua anak bangsa, termasuk penyandang disabilitas, untuk berpolitik. Sapto Yuli Isminarti, penyandang disabilitas asal Malang, meresponsnya.

Pengusaha hijab itu terdaftar sebagai calon legislatif DPRD Kabupaten Malang untuk daerah pemilihan (Dapil) tujuh. Dia yakin mampu memberi sumbangan pemikiran bagi pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) di Kabupaten Malang.

"Mbak Tutut yang selalu memberi dorongan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk berkarya," kata Sapto Yuli saat ditemui di Hotel Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (21/3).

Terakhir, dalam dialog dengan anggota Gerakan Bakti Cendana, Mbak Tutut juga kembali memberi dorongan kepada Sapto Yuli untuk bertarung memperebutkan kursi DPRD Kabupaten Malang. Mbak Tutut mengatakan, buatlah mulai dari hal kecil sebagai bagian membangun pondasi bangsa dan negara.

Sapto Yuli lahir dari keluarga miskin, dan dia bersyukur pernah hidup dalam jerat kemiskinan. Dia berusaha keras keluar dari kemiskinan dengan menjadi produsen hijab dan kerudung. "Dari era Presiden Soeharto sampai saat ini masalah terbesar bangsa adalah kemiskinan," kata wanita pengguna kaki palsu itu. "Keluarga saya juga saya miskin, dan saya bisa keluar dari kemiskinan," sambungnya.

Menurut Sapto Yuli, upaya keluar dari kemiskinan dimulai dengan berkarya, mendesain hijab dan kerudung, serta memproduksinya. Dia memenangkan banyak order pengadaan hijab, kerudung, t-shirt dan jaket dari berbagai organisasi. "Penyandang difabel miskin itu pasti terpinggirkan, tapi jika punya semangat dan kemauan berkarya siapa pun bisa keluar dari kemiskinan," katanya.

Sapto Yuli memimpikan difabel di Indonesia memperlihatkan karya di bidang apa saja. Di sisi lain, pemerintah lebih peduli pada kaum difabel. "Negeri kita sudah mulai ramah kepada kaum difabel, terutama di kota besar," ujar wanita berusia 46 tahun itu. "Namun dibanding negara lain, Indonesia masih tertinggal," ujarnya.

Dia menyebut Sydney, salah satu kota di Australia, yang memiliki jaringan braille dan tanda tactile--atau penunjuk jalan untuk orang yang memiliki gangguan penglihaan--paling luas di dunia.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...