Pengamat Ini Nilai Anggap Bioetanol Bukan Solusi Memperbaiki Kualitas Udara

Pengamat Ini Nilai Anggap Bioetanol Bukan Solusi Memperbaiki Kualitas Udara
Ilustrasi kualitas udara Jakarta. Foto: Natalia Laurens/JPNN.com

Aturan itu mengatur soal BBM harus berstandar emisi Euro 4 yang berlaku bagi kendaraan roda empat berbahan bakar bensin sejak Oktober 2020.

"Namun, sebagian besar bahan bakar yang digunakan di Indonesia, baik itu bensin maupun solar masih belum memenuhi standar emisi Euro 4. Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menyatakan bahwa Indonesia menjadi negara paling tertinggal di Asia Tenggara, dalam komitmen peralihan penggunaan BBM yang lebih ramah lingkungan," ujar Badar.

Dia kemudian melanjutkan penggunaan bioetanol sebagai bentuk transisi energi bersih sebagaimana yang digaungkan, juga tak menjamin dalam mengatasi kualitas udara.

Badar mengungkapkan bahwa penelitian menunjukkan bahwa bioetanol bisa meningkatkan penguapan senyawa organik atau volatile organic compounds.

Oleh karena itu, katanya, Mexico telah melarang penggunaan bioetanol di kota besar seperti Mexico City, Guadalara, dan Monterrey.

"Namun demikian, alih-alih meningkatkan kualitas BBM sesuai standar Euro 4 yang urgen dilakukan saat ini untuk meningkat kualitas udara yang bersih, justru ada upaya untuk mendorong bioetanol yang membutuhkan investasi besar dari hulu hingga hilir dan waktu yang panjang," ujar Badar.

Dia kemudian mengingatkan implementasi bioetanol dalam meningkatkan kualitas udara malah bisa menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.

“Kalau ngotot akan menggunakan bioetanol, ketergantungan pada impor akan meroket, karena pasokan bioetanol domestik saat ini tidak cukup, sehingga mau tidak mau justru akan membuka keran impor bioetanol dan ini berdampak kepada petani dan produsen lokal dan membuat harga BBM semakin tidak terjangkau," kata Badar. (ast/jpnn)


Pengamat energi Muhammad Badaruddin menganggap bioetanol bukan solusi dalam memperbaiki kualitas udara. Kemudian apa jalan keluarnya?


Redaktur : Rah Mahatma Sakti
Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News