Perang Vietnam di Film Rambo itu Parah, di Gaza Lebih Parah

Perang Vietnam di Film Rambo itu Parah, di Gaza Lebih Parah
Abdillah Onim saat bersama keluarganya. Foto: Imam Husein/Jawa Pos

Setelah menikah, Onim pun bekerja keras untuk bisa membangun tempat tinggal sendiri. Sedikit demi sedikit menabung sampai akhirnya bisa membeli sebidang tanah di Gaza bagian utara.

Tanah tersebut menjadi hak milik dan atas nama Abdillah Onim serta bersertifikat dari Kementerian Pertanahan Palestina di Jalur Gaza. Onim pun jadi WNI yang pertama memiliki tanah di Gaza.

Tapi, persoalan lain datang: tidak ada dana untuk membangun rumah. Di tengah kebingungan itu, dia mendengar bahwa Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Daarul Qur’an punya rencana untuk mendirikan Rumah Tahfidz di Gaza.

Onim lantas menawarkan tanahnya untuk pembangunan Rumah Tahfidz. Pembangunan mulai dilakukan pada 30 September 2013.

Bangunan tersebut terdiri atas tiga lantai. Lantai teratas dijadikan tempat tinggal Bang Onim dan keluarga.

Sementara itu, lantai bawahnya digunakan untuk tempat menghafal Alquran. Sejak 2014 sudah lebih dari 40 anak-anak Gaza yang berhasil hafal Alquran 30 juz.

Namun, pada 2014, bangunan tersebut sempat hancur setelah diserang 16 rudal Israel. Kondisinya 80 persen hancur. Sama sekali tidak bisa ditinggali.

Dia memang merasa Israel mengincarnya. ”Serangan 16 rudal Israel ke tempat tinggal saya itu bukan satu-satunya. Ada tiga serangan lain yang juga dilakukan Israel,” katanya.

Abdullah Onim mengatakan, umat Kristen Palestina mengeluarkan statemen, bila Masjidilaqsa tetap ditutup, mereka akan mengalihfungsikan gereja menjadi masjid.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News