Perjuangan Bidan-Bidan Inspiratif Melawan Kuatnya Tradisi Lokal

Simulasi Bakar Tegaskan Risiko Panggang Api

Perjuangan Bidan-Bidan Inspiratif Melawan Kuatnya Tradisi Lokal
Bidan Meiriyastuti menghadapi budaya lokal memandikan bayi di sungai Batanghari. (19/12) Foto : Srikandi Award for Jawa Pos
Rosa bertekad melawan tradisi itu. Belum genap sebulan bekerja, dia mengumpulkan kepala desa, camat, kepala suku, hingga sesepuh adat. "Dalam pertemuan itu, saya langsung bilang bahwa upacara panggang api harus dihentikan," tegasnya. Respons yang dia dapat positif. Para tokoh warga itu siap membantu Rosa untuk menyadarkan masyarakat setempat.

   

Menurut Rosa, upacara panggang api sangat berisiko pada kesehatan ibu dan bayi. Mereka bisa terserang anemia (kurang darah) dan pneumonia (radang paru-paru). Perjuangan Rosa tidak mudah. Pendapatnya ditentang pemangku adat setempat. Dia ditantang untuk membuktikan analisis tersebut.

   

Rosa pun memutar otak. Dia akhirnya menemukan media sosialisasi yang murah dan mudah didapat: ikan! Rosa membelinya di pasar setempat. Setelah ditusuk dengan kayu, ikan itu dipanggang di atas bara api yang terus mengeluarkan kepulan asap. Sejurus kemudian, ikan tersebut kering, matang, dan siap dimakan.

   

Itu adalah perumpamaan dari tradisi panggang api. Dari praktik memanggang ikan tersebut, Rosa mengatakan, jika terus dipanggang di atas bara api, ikan akan kehilangan cairan dan mengering. "Begitu pula manusia. Bisa kering karena kehilangan cairan jika dipanggang," jelasnya. Mendengar paparan Rosa, warga pun manggut-manggut.

   

Tugas para bidan, terutama di daerah pelosok, tidak semudah yang dibayangkan. Selain medan yang sulit, hambatan lain adalah kuatnya tradisi lokal

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News