Pers Indonesia Tidak Baik-Baik Saja

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Pers Indonesia Tidak Baik-Baik Saja
Dhimam Abror Djuraid. Foto: Ricardo/JPNN.com

Inilah ciri khas disrupsi digital yang membuat dunia tunggang langgang.

Muncul banyak perusahaan teknologi yang menyerobot lahan garapan perusahaan-perusahaan yang sudah mapan.

GoJek dan Grab menjadi perusahaan layanan transportasi terbesar di dunia tanpa memiliki satu unit kendaraan pun.

Bukalapak dan Tokopedia menjadi penjual ritel terbesar di Indonesia tanpa punya satu gerai toko pun.

Airbnb menjadi perusahaan penyedia akomodasi terbesar di dunia tanpa punya satu hotel pun.

Kemunculan platform-pltaform ini menjungkirbalikkan praktik bisnis yang sudah mapan di masing- masing dunia industri dan memaksa para raksasa industri untuk bertekuk lutut menyerah kepada praktik baru yang didiktekan oleh perusahaan platform itu.

Industri media juga menghadapi disrupsi yang sama.

Trio FGA menjadi ‘’perusahaan media’’ yang tidak mempunyai satu media penerbitan pun.

Cak Abror menyebut pers Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Ada apa sebenarnya? Simak ulasannya di sini.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News