Persoalan Beras, Juga Karena Tata Niaga

Persoalan Beras, Juga Karena Tata Niaga
Persediaan beras. Foto: Humas Kementan

Jika surplus beras dihitung dari cadangan yang dipegang Bulog dan cadangan beras di masyarakat. Sebab, sampai bulan Oktober ini, pengadaan beras dalam negeri oleh Bulog telah mencapai 1,5 juta ton. “Perhitungan surplus ini menjadi kurang masuk akal”, tegasnya. 

Dari jumlah tersebut, 700 ribuan ton sudah dipakai untuk beras rastra, operasi pasar dan bantuan bencana alam, sehingga sisa cadangan beras pengadaan dalam negeri saat ini ada sekitar 800 ribu ton. Selain itu, Bulog juga memegang cadangan beras kelas premium sebesar 150 ribu ton.

Atas dasar itu, Bambang menjelaskan, dari pengadaan beras dalam negeri Bulog saat ini memegang sekitar 950 ribu ton. Jika disebutkan angka surplus beras hanya 2,85 juta ton, maka cadangan beras yang berada di masyarakat atau rumah tangga hanya 1,9 juta ton. “Dan jika diasumsikan jumlah rumah tangga di Indonesia sebanyak 100 juta KK, maka cadangan surplus beras yang di rumah tangga hanya 19 kg per KK per tahun.

“Ini tidak masuk akal, tandasnya. Tahun 2015, kalau tak salah BPS telah melakukan survei surplus beras di rumah tangga mencapai 7,5 kg per bulan atau 90 kg per tahun. “Ini satu hal yang menunjukkan metode baru tersebut masih tetap perlu diuji validitasnya, logika modelingnya bagaimana,” ujar Bambang.

Dia juga mengomentari kritikan soal data beras yang disebut sebagai data palsu oleh pengamat. Padahal menurut dia, soal data beras, Kementan selalu mengacu pada data BPS. “In fact data yang dirilis Kementan berbasis data dari BPS juga," jelasnya.

Sementara Pengamat Politik Pertanian, Universitas Trilogi, Jakarta, Muhamad Karim menilai, bagaimanapun juga hasil perhitungan BPS melalui metode KSA menunjukkan program Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil meningkatkan produksi beras.

Capaian ini patut diapresiasi karena mampu menciptakan surplus ditengah situasi yang tidak mendukung. “Namun berkat kerja keras dan upaya Kementrian Pertanian setidaknya mampu memberikan hasil yang surplus”, ujarnya.

Metode KSA telah menghitung produksi beras di tahun 2018 mencapai 32,4 juta ton, sementara konsumsinya 29,6 juta ton. Ini kan berarti produksi dikurangi konsumsi sudah surplus. Surplus ini artinya berlebih untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. “Hal ini diperkuat dengan data stock beras di BULOG saat ini sebesar 2,4 juta ton,” kata Karim di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Ekonom INDEF Rusli Abdullah menilai, permasalahan beras tidak hanya terletak di masalah data produksi, tetapi juga di tata niaga.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News