Pesan Damai dari Pesantren Ruseifah, Banyak Lahirkan Ulama, Tak Pernah Mengkafirkan

Pesan Damai dari Pesantren Ruseifah, Banyak Lahirkan Ulama, Tak Pernah Mengkafirkan
FOTO: ENDRAYANI DEWI/JAWA POS

"Semuanya berdasarkan ilmu, karena berapa banyak musibah dan fitnah terjadi karena kebodohan. Dan kebodohan inilah yang telah menjadikan sebagian umat Islam menistakan dirinya dan berperilaku tidak sesuai  ajaran Islam," ujarnya.

Seperti sang ayah, Sayyid Ahmad merupakan pendakwah berpaham Ahlus Sunnah wal Jamaah atau biasa disebut Sunni. Di sisi lain, Wahabi adalah paham yang digariskan pemerintah Arab Saudi. 

Lantaran perbedaan paham itu, dia sempat mendapat tekanan dari pemerintah. Suatu kali, pada 2006, Sayyid Ahmad menggelar maulid nabi, peringatan kelahiran Nabi Muhammad, seperti biasa dirayakan sebagian besar umat Islam di Indonesia. 

Sepekan setelah acara yang dihadiri ribuan orang itu, dia dipaksa pemerintah meneken perjanjian agar tak lagi mengadakan maulid. Pemerintah berdalih kegiatan semacam itu adalah bidah (mengada-ada) karena tidak ada dalilnya dalam kitab suci. 

Sayyid Ahmad menolak meneken surat dari pemerintah. Dia pun menyampaikan berbagai argumen tentang pentingnya Maulid Nabi Muhammad. "Taruhan leherku, aku tidak akan menandatanganinya," tegasnya kepada aparat. 

Cerita tersebut disampaikan KH Muhammad Hasan Abdul Muiz, pengasuh pesantren di Bondowoso, Jawa Timur, yang pernah mondok di Ruseifah pada 2005-2013. 

Sejak itu, lanjut Hasan Abdul Muiz, orang-orang sepuh di Makkah menjuluki Sayyid Ahmad dengan sebutan anak singa. Julukan itu merujuk pada sikap ayahnya, Sayyid Muhammad bin Alawy, yang juga menolak tunduk terhadap tekanan Raja Fahd. 

Alasan kedekatan itu pula yang membawa Menteri Lukman ke kawah candradimuka para kiai Indonesia tersebut. 

PESANTREN Ruseifah memiliki banyak kemiripan dengan pesantren di Jawa, baik dalam tradisi, pelajaran, pemikiran, maupun adab. Mereka memegang prinsip

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News