Sabtu, 20 Juli 2019 – 07:59 WIB

PPDB Sistem Zonasi: Jarak Rumah ke Sekolah Lebih Penting Dibanding Nilai UN

Sabtu, 22 Juni 2019 – 07:42 WIB
PPDB Sistem Zonasi: Jarak Rumah ke Sekolah Lebih Penting Dibanding Nilai UN - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA - Penerimaan peserta didik baru alias PPDB 2019 sistem zonasi mendapat kritikan banyak pihak. Terutama tentang aturan jarak antara domisili siswa dengan sekolah.

Hal itu menimbulkan stigma bahwa jarak rumah siswa dengan sekolah lebih penting dibanding nilai atau prestasi yang harus diraih. Sebab, siswa yang berdomisili di dekat sekolah “wajib” diterima. Sebagaimana amanat Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang PPDB.

Peneliti literasi dan pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta Roni K. Pratama mengungkapkan, kondisi itu membuat para orangtua siswa ketar-ketir. Sebab, seberapa pun kecerdasan akademik anak jika jarak rumah dengan sekolah impiannya jauh, maka hal itu akan sangat sulit terwujud.

Sehingga anak tersebut harus rela bersekolah di lokasi yang dekat dengan domisilinya. Meski si anak tak begitu minat. Demikian pula sebaliknya. Peserta didik berlatar belakang akademik yang “mengkhawatirkan” justru punya peluang lebih besar untuk diterima di sekolah favorit. Asal rumahnya dekat dengan sekolah terkait. Alias masuk zona sekolah tersebut.

BACA JUGA: Antre Pendaftaran PPDB, Emak – emak: Kamu Baru Datang Mau Nyelonong!

Melihat kondisi itu Roni khawatir jika pada akhirnya sistem zonasi semata-mata hanya berorientasi jarak terdekat. Antara rumah siswa dengan sekolah. Karena radius menjadi pertimbangan utama pemilihan sekolah. "Maksud sistem ini sesungguhnya baik karena ingin menyetop stereotipe dikotomi sekolah unggulan dan sekolah pinggiran,” ungkapnya.

Kendati demikian, Roni menilai pemerintah terlalu tergesa-gesa dalam menerapkan kebijakan. Dengan memukul rata keadaan. Di sisi lain Roni melihat masih banyak hal yang harus diperbaiki. Terutama kualitas sekolah dan pendidik.

"Seharusnya kualitas sekolah diperbaiki sekaligus diperkokoh terlebih dahulu. Baik sarana maupun prasarananya, secara sistematis dan komprehensif," kritik Roni.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar