Presiden Jokowi Lebih Berkelas jika Akhiri Masa Jabatan dengan Happy Ending

Presiden Jokowi Lebih Berkelas jika Akhiri Masa Jabatan dengan Happy Ending
Pangi Syarwi Chaniago. Foto: dokumen JPNN.Com/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menyatakan mayoritas publik menolak ide tentang penambahan masa jabatan presiden.

Direktur eksekutif Voxpol Center Research and Consulting itu menilai wacana tersebut sebagai 'testing the water' atau mengetes air untuk memancing reaksi publik.

Ternyata, publik mengkhawatirkan perpanjangan masa jabatan presiden akan mengembalikan Indonesia ke pemerintahan otoriter.

"Temuan Voxpol Center Research and Consulting pada Juli 2021 sudah jauh-jauh hari memotret fenomena penolakan masyarakat dengan wacana testing the water tersebut," ujar Pangi dalam keterangan resminya, Senin (7/3).

Ipang -panggilan akrabnya- memerinci 73,7 persen responden survei Voxpol menolak masa jabatan presiden ditambah menjadi 3 periode.

Selanjutnya, sebanyak 34,4 persen dari responden yang menolak itu menganggap perpanjangan masa jabatan presiden merupakan kemunduran demokrasi, sedangkan 28,2 persen lainnya menyebut hal itu akan menghambat regenerasi kepemimpinan.

Adapun 9,9 persen responden menolak ide perpanjangan masa jabatan presiden dengan alasan untuk menghindari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) maupun oligarki. Selain itu, ada  8,7 persen tidak mau menjadi pengkhianat demokrasi.

Sisanya, ada 4,6 persen responden menganggap wacana itu hanya ulah oknum tertentu yang ingin menjebak Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengharapkan Presiden Jokowi memosisikan diri sebagai negarawan yang menaati konstitusi dan mengakhiri masa jabatannya secara baik.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News