Profesor Doktor

Profesor Doktor
Dahlan Iskan saat di Skotlandia. Foto: disway.id

jpnn.com - SAYA sungkan menuliskan ini. Namun, saya lebih sungkan mengaku punya hobi makan durian. Ketularan istri saya.

Aneh. Kok tiba-tiba ada yang mempersoalkan gelar saya itu. Kesannya, saya itu begitu bangga dengan gelar profesor dan doktor honoris causa itu.

Saya setuju dengan Pry. Yang berkomentar di forum ini kemarin: gelar profesor itu hanya bisa digunakan di lingkungan akademik.

Baca Juga:

Saya sendiri sering menertawakan –dalam hati– orang yang membawa gelar itu ke tempat sembarangan.

Rasanya saya sudah cukup hati-hati: tidak pernah menggunakan dua gelar itu di depan nama saya. Tidak pula di kartu nama. Atau di cover buku yang saya tulis. Atau di naskah apa pun.

Tentu, kalau mau, saya sudah bisa menerima gelar seperti itu jauh sebelum menjadi sesuatu. Banyak yang menawarkan.

Baca Juga:

Saya selalu menolak. Tidak pantas. Saya ini lulus S-1 pun tidak.

Saya lebih bangga dengan jabatan CEO, apalagi seorang tamatan madrasah aliah bisa menjadi CEO perusahaan besar.

Aneh. Kok tiba-tiba ada yang mempersoalkan gelar saya itu. Kesannya, saya itu begitu bangga dengan gelar profesor dan doktor honoris causa itu.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News