Rabu, 17 Januari 2018 – 19:44 WIB

Pilkada 2018

Puja Kessuma Harus Memegang Teguh Falsafah 'Tunggal Sekapal'

Jumat, 12 Januari 2018 – 02:10 WIB
Puja Kessuma Harus Memegang Teguh Falsafah 'Tunggal Sekapal' - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum Putra-putri Jawa Kelahiran Sumatera, Sulawesi dan Maluku (Puja Kessuma) Suhendra Hadi Kuntono menyerukan kepada warga keturunan Jawa yang lahir di Sumatera, Sulawesi dan Maluku untuk memenangkan calon gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati dan wali kota/wakil wali kota yang senasib sepenanggungan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018. Pilkada 2018 akan digelar serentak di 171 daerah di seluruh Indonesia pada Rabu, 27 Juni 2018.

“Keluarga Puja Kessuma harus memegang teguh falsafah 'tunggal sabahita' atau tunggal sekapal," ungkap Suhendra dalam keterangan persnya di Jakarta, Jumat (12/1/2019).

Suhendra menjelaskan ‘Tunggal’ berarti satu, dan ‘sabahita’ adalah perahu atau kapal laut. Karena itu, ‘tunggal sabahita’ berarti kebersamaan dalam satu kapal.

Untuk diketahui, replika ‘Bahita’ saat ini terpahat di relief Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Lebih lanjut, Suhendra merujuk sejarah orang-orang Jawa yang “dibuang” ke Sumatera oleh pemerintah kolonial Belanda secara bergelombang sejak 1880 dengan menggunakan kapal laut untuk kerja paksa.

Di Sumatera, dan kemudian juga di Sulawesi, Maluku dan pulau-pulau lain di Indonesia, bahkan sampai ke Semenanjung Malaya dan Madagaskar, mereka beranak-pinak, dan memiliki ikatan persaudaraan yang tinggi untuk bertahan hidup (survive) di perantauan. Menurutnya, rasa persaudaraan itu sama seperti saudara kandung yang kemudian diturunkan ke anak-cucu.

“Kami selalu merasa senasib sepenanggungan, ibarat berada di sebuah kapal,” jelas Suhendra, keturunan Jawa kelahiran 50 tahun lalu di Medan, Sumatera Utara ini.

Sebagai bangsa yang hidup di negeri maritim, menurut Suhendra, nenek-moyang kita memang dikenal sebagai pelaut ulung. Sebab itu, ‘sabahita' pun dimaknai sebagai hidup mati bersama, apa pun masalahnya harus dihadapi bersama. Apa pun permasalahan antar-pribadi yang muncul di atas "sabahita", harus diselesaikan di daratan. Jangan sampai mengganggu kebersamaan mereka di lautan.

SHARES
loading...
loading...
Komentar