Rombongan Kesenian Tenggelam di Bali

Diduga Faktor Cuaca, 11 Tewas, 14 Hilang

Rombongan Kesenian Tenggelam di Bali
Rombongan Kesenian Tenggelam di Bali
Kedua pulau di sebelah tenggara Pulau Dewata itu secara administratif masuk wilayah Kabupaten Klungkung. Lalu lintas antar kedua pulau selama ini memang menggunakan janggolan alias kapal nelayan tradisional.  Dari informasi yang dikumpulkan Radar Bali (Jawa Pos Group/JPNN), pukul 23.30 Wita, sekitar 200 meter setelah meninggalkan Dermaga Junggut Batu dalam perjalanan menuju Dermaga Toya Pakeh, Nusa Penida, tiba-tiba gelombang besar menerjang janggolan yang dinaiki rombongan bersama satu set gamelan tersebut. Gelombang setinggi empat meter tersebut pun membuat perahu yang dinakhodai Made Langgor tersebut terbalik.

Menurut saksi mata yang juga bendesa Adat Jungut Batu, Ketut Gunaksa, sekitar pukul 23.30 Wita, pihaknya bersama warga lainnya mendengar orang berteriak minta tolong. Setelah dicek ternyata janggolan yang baru saja berlayar menuju Nusa Penida sudah tenggelam.

Warga langsung melakukan pertolongan. Sementara sebagian juga ada yang melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Nusa Penida, yang selanjutnya meneruskannya ke Badan SAR Nasional di Denpasar.

Malam itu juga tim SAR langsung melakukan pencarian dibantu warga. Untuk diketahui perahu ini dinahkodai oleh Made Langgor yang sampai saat ini belum ditemukan. Perahu dengan panjang 20 meter tersebut berkapasitas maksimal 40 orang atau 10 ton barang.

SEMARAPURA-Tragedi di laut kembali terjadi. Sebuah janggolan atau perahu jukung tradisional Sri Murah Rejeki yang mengangkut rombongan sekaa (kelompok)

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News