Satgas Anggap Ribuan Jaksa Bermanuver

Internal Kejaksaan Klaim Jaksa Karir Lebih Siap

Satgas Anggap Ribuan Jaksa Bermanuver
Satgas Anggap Ribuan Jaksa Bermanuver
Anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo berpendapat lain. Jika ingin ada pembenahan serius di Kejagung, calon jaksa agung harus berasal dari eksternal. Sebab, demi menghindarkan adanya konflik kepentingan dan hambatan psikologis jaksa agung, perlu orang dari luar Gedung Bundar untuk melakukan reformasi.

Menurut dia, kolusi di internal Kejagung terkesan masih sangat kental, terutama melindungi sesama kolega yang diduga bermasalah. Respons minimalis pimpinan Kejagung atas beberapa jaksa yang diduga terlibat dalam mafia kasus Gayus Tambunan merupakan salah satu indikasi. "Polri jauh lebih lugas dibanding Kejagung," ujar Bambang.

Institusi Polri dinilai aktif memproses sejumlah perwira polisi yang terlibat kasus Gayus. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi tersangka dan diadili. Pada bagian lain, internal kejaksaan tetap bersikeras pengganti Hendarman Supandji sebaiknya berasal dari kalangan internal. Wakil Jaksa Agung Darmono menyatakan, jaksa karir jauh lebih unggul dibanding calon dari jaksa nonkarir.

Menurut dia, jaksa agung merupakan jabatan profesi yang juga berarti jabatan keahlian. "Jabatan keahlian hanya bisa diperoleh dari pengalaman, pendidikan. Itu cuma ada di jaksa karir," ungkapnya di Kejagung kemarin.Karena itu, Darmono bersikeras bahwa yang lebih siap untuk memimpin Korps Adhyaksa ke depan adalah jaksa karir. "Secara kualitatif dan kuantitatif (jaksa agung dari internal), saya yakin lebih baik. Minimal tidak perlu belajar," tegasnya.

JAKARTA - Sikap ribuan jaksa anggota Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) yang menolak calon jaksa agung dari jalur nonkarir alias dari luar patut disesalkan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News