Saya yang Menggali Kuburnya dan juga Mengazankan, Sepi Sekali

Saya yang Menggali Kuburnya dan juga Mengazankan, Sepi Sekali
Mustakim bersama anaknya, meluangkan waktu untuk berolahraga menjaga kebugaran tubuh. Foto: Dok Pribadi - radarsemarang

“Kami senang, bisa bantu. Kami semua juga menghibur pihak keluarga. Saya katakan sabar, ini kehendak Tuhan,” ucapnya.

Lalu, apakah Mustakim setuju jika petugas pemakaman jenazah Covid-19 disebut Pahlawan Covid-19? Dia mengaku setuju.

Menurutnya, petugas makam adalah orang yang memberikan penghormatan di peristirahatan terakhir para jenazah Covid-19.

Petugas makam harus siap kapan saja bila dibutuhkan. Sebab, jenazah harus segera dikebumikan kurang dari empat jam. Terkadang, pemakaman berlangsung larut malam atau dini hari.

“Kami harus kerja tim. Untuk menggali makam saja butuh waktu 2,5 jam. Seperti saya ini, harus memaksimalkan tenaga dan mengurangi istirahat, agar proses penggalian tanah cepat selesai,” tuturnya.

Mustakim beruntung, keluarganya menerima penuh risiko pekerjaan ini. Khususnya saat situasi pandemi Covid-19.

Dukungan paling besar dari istrinya, Budi Yunita Sari. Lalu dua anaknya sebagai sumber penyemangat. Yakni, Nimas Nayla Rahmadanti yang kini duduk kelas IX SMP, dan Saquina Qiandra Elfatia yang masih berumur tiga tahun.

Dia pun melewati masa-masa takut bertemu dengan anaknya yang masih balita, sesudah bertugas memakamkan jenazah Covid-19.

Mustakim juga mengingatkan, pakailah masker, cuci tangan pakai sabun, jaga jarak, jangan stres dan makan makanan yang sehat.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News