JPNN.com

Sudahlah, Akui Saja Koalisi Pendukung Jokowi Sudah Berasap

Sabtu, 09 November 2019 – 10:40 WIB Sudahlah, Akui Saja Koalisi Pendukung Jokowi Sudah Berasap - JPNN.com
Ketua Nasdem Surya Paloh saat berpidato pada pembukaan Kongres II Partai NasDem, Jakarta, Jumat (8/11). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Analis politik Pangi Syarwi Chaniago memandang koalisi gemuk pendukung pemerintahan Presiden Jokowi - Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin, mulai mengalami keretakan alias korsleting.

Analisis ini dilontarkan direktur eksekutif Voxpol Center Research and Consulting tersebut, setelah mengamati pidato Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh saat membuka Kongres II partai yang mengusung jargon Restorasi Indonesia tersebut, di JIExpo Kemayoran, Jumat malam (8/11).

Bos Media Group itu terang-terangan menyindir parpol yang merasa paling pancasilais. Menurut Surya, parpol yang merasa paling pancasilais itu hanya bisa menyodorkan klaim karena perbuatannya tidak selaras dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Dia juga menyatakan bahwa partai yang sok pancasilais justru memiliki sifat memecah belah dan tak mau berangkulan ataupun bersalaman dengan teman sendiri.

Entah ada kaitan atau tidak, bagian ini mengingatkan publik pada kejadian Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tidak menyalami Surya Paloh di acara pelantikan Angota DPR, DPD dan MPR pada Selasa (1/10) lalu.

"Memang koalisi Pak Jokowi pada periode kedua ini sudah mulai ada korsleting dan mulai berasap koalisi pemerintah, hanya karena soal tetek bengek yang tidak terlalu mendasar. Urusan sepele, hanya soal personal, mestinya mereka ribut kalau soal kepentingan rakyat," ucap Pangi kepada jpnn.com, Sabtu (9/11).

Pengamat yang beken disapa dengan panggilan Ipang ini mecermati apa yang disampaikan Surya ada benarnya bahwa dalam politik tidak boleh baper (terbawa perasaan-red), personal. Namun harus tetap membangun silaturahmi kebangsaan. Menjaga komunikasi politik sekalipun berbeda pandangan dan sikap politiknya.

Pangi menambahkan bahwa seorang negarawan harus selesai soal personal, dan lebih memikirkan kepentingan bangsa yang lebih besar daripada golongannya.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...