Tanah

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Tanah
Ilustrasi. Foto: dok/JPNN.com

Bukan hanya tanah yang dirampas, tetapi hewan ternak seperti sapi dan kerbau, yang menjadi aset utama petani, juga dirampas paksa oleh Belanda. Petani yang menolak dan melawan akan dibunuh atau dikerangkeng di penjara karena dianggap sebagai ekstremis.

Dua puluh tahun sebelum pemberontakan besar petani Banten, kisah kemiskinan yang mencekam itu sudah didokumentasikan oleh Multatuli dalam novelnya yang brilian ‘’Max Havelaar’’ (1860).

Novel itu berkisah mengenai Havelaar yang ditugasi sebagai bupati di Lebak, Banten, dan melihat terjadinya ketidakadilan terhadap para petani yang sudah sangat miskin.

Novel itu diwarnai dengan satu episode roman antara Saijah dan Adinda, yang menggambarkan kisah cinta dua anak petani miskin di satu desa. Saijah merantau ke kota, tetapi ketika pulang ia mendapatkan rumah Adinda sudah rata dengan tanah akibat dibakar Belanda.

Saijah meninggal dibunuh Belanda ketika ingin menyelamatkan Adinda.

Kisah yang ditulis Multatuli dan historiografi yang ditulis Prof. Sartono menunjukkan bahwa Jawa Barat secara tradisional dan turun temurun telah menjadi kantong kemiskinan yang mengenaskan. Sampai sekarang, sisa-sisa kemiskinan itu masih terlihat di wilayah-wilayah itu.

Persoalan kepemilikan tanah dan kemiskinan struktural masih menjadi persoalan serius.

Di masa pemerintahan Orde Baru, berbagai kasus agraria dalam bentuk perampasan tanah rakyat terjadi di banyak daerah. Akibat perampasan itu muncul perlawanan rakyat yang sering berakhir dengan pemenjaraan dan pertumpahan darah.

Para petani dan pemilik tanah miskin selalu rentan terhadap pengambilalihan paksa oleh penguasa.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News