Selasa, 16 Juli 2019 – 19:50 WIB

Tercekik, Malaysia Rayu Tiongkok Batalkan Perjanjian Utang

Selasa, 21 Agustus 2018 – 20:35 WIB
Tercekik, Malaysia Rayu Tiongkok Batalkan Perjanjian Utang - JPNN.COM

jpnn.com, BEIJING - Kunjungan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad di Beijing memasuki momen penentuan. Kemarin, Senin (20/8), pemimpin 93 tahun itu duduk bersama dengan petinggi Tiongkok. Tujuannya, menentukan nasib megaproyek East Coast Rail Link (ECRL).

Mahathir bertemu dengan Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang di Balai Agung Rakyat, Beijing, dengan menggandeng barisan menteri. Di antaranya, Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Saifuddin Abdullah, Menteri Industri Primer Teresa Kok Suh Sim, Menteri Perdagangan dan Industri Luar Negeri Ignatius Darell Leiking, serta Menteri Agrikultur Datuk Salahuddin Ayub. Dalam kesempatan tersebut, mereka menandatangani beberapa nota kesepahaman. Misalnya, kesepakatan mengenai pertukaran mata uang dua negara.

Namun, bukan MoU tersebut yang ditunggu publik Malaysia. Pandangan mereka, termasuk Mahathir, tertuju pada satu isu. Yakni, kelanjutan nasib proyek sistem rel kereta api di pesisir timur Malaysia.

Sebelum bertolak ke Beijing, Mahathir berkali-kali menyebutkan masalah tersebut. Dia bertahan pada pendapatnya sejak berstatus oposisi pemerintah pada era Najib Razak. Menurut dia, kontrak tersebut tidak adil dan memberatkan keuangan negara.

”Saya setuju bahwa perdagangan bebas merupakan jalan yang harus dilalui. Tapi, perdagangan bebas juga harus menjadi perdagangan yang adil,” tegasnya dalam konferensi pers bersama Li seusai penandatanganan MoU sebagaimana dilansir Reuters.

ECRL, proyek sistem kereta api terbesar sepanjang sejarah Malaysia, merupakan kebanggaan Najib. Hanya, visi untuk menghubungkan jalur sepanjang 688 kilometer dari tersangka kasus 1MDB itu terkesan ambisius.

Kebutuhan investasi RM 55 miliar (sekitar Rp 190 triliun) membengkak menjadi RM 81 miliar (Rp 288 triliun). Sebanyak 85 persen dari total investasi itu dibiayai bank ekspor-impor Tiongkok.

Yang perlu diperhatikan, bahasa yang dikeluarkan Mahathir dalam pertemuan saat itu cukup halus. Dia tak lagi gamblang seperti wawancaranya kepada media di Malaysia.

Sumber : Jawa Pos
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar