Wahabisme

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Wahabisme
Dhimam Abror Djuraid. Foto: Ricardo/JPNN.com

Karena itu, Gus Dur mengatakan ucapan salam ‘’Assalamu alaikum’’ bisa diganti dengan ‘’selamat pagi’’, ‘’selamat siang’’, dan seterusnya.

Gagasan Gus Dur ini dianggap melenceng terlalu jauh, dan bahkan sekalangan kiai-kiai senior NU pun tidak sependapat.

Beberapa ulama NU terkemuka pun menyatakan memisahkan diri dari Gus Dur.

Gus Dur menekankan bahwa Islam perlu menyesuaikan diri dengan kondisi kultural di mana Islam itu ditempatkan.

Sebab, segala keadaan tidak bisa secara literal mengikuti Islam, jusru yang harus dilakukan adalah saling menyesuikan diri dan bagaimana Islam mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi kultural yang berbeda-beda sekaligus berubah-ubah.

Dengan kata lain, kehadiran Islam di Indonesia harus bisa menyesuaikan diri dengan cara melakukan akulturasi dengan konteks Indonesia.

Bagaimana pun Gus Dur punya kredensial dan otoritas keilmuan yang mumpuni untuk memperdebatkan gagasan pribumisasi Islam.

Dia menguasai khazanah keilmuan Islam dan khazanah barat dan bisa mengambil sintesa dari pemikiran-pemikiran itu.

Beda dengan HTI dan FPI yang bentuk organisasinya jelas, wahabisme bukan organisasi melainkan sebuah ide dan gerakan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News