Jumat, 22 Agustus 2014 | 16:51:13
Home / Ekonomi / Valas / Tahun Depan, USD = Rp 8.500

Selasa, 14 Desember 2010 , 03:03:00

BERITA TERKAIT

JAKARTA - Hingga tahun depan, Indonesia diprediksi masih menjadi salah satu favorit tujuan investasi. Capital inflow atau aliran modal masuk pun masih akan membanjir.
      
Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan, naiknya tekanan inflasi berpotensi membuat Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan atau BI rate. Jika BI rate naik, maka capital inflow akan makin deras mengalir ke Indonesia. "Dampaknya, apresiasi Rupiah akan terus berlanjut, bisa menembus Rp 8.500 hingga 8.800 per USD," ujarnya saat seminar di Jakarta, Senin (13/12).

Sebagai gambaran, berdasar nilai tengah kurs BI, kemarin nilai tukar Rupiah ditutup di level Rp 9.019 per USD, melemah tipis dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang sebesar Rp 9.015 per USD. Adapun dalam APBN 2011, nilai tukar dipatok di level Rp 9.250 per USD.

Menurut Fauzi, BI akan menghadapi dilema. Sebab, untuk mengerem inflasi, BI memang harus menaikkan BI rate guna menyerap likuiditas. Namun jika itu dilakukan, dana asing akan makin banyak membanjiri Indonesia. "Jika BI intervensi (untuk meredam apresiasi Rupiah), modal BI bisa terkuras," katanya. Tapi, lanjut dia, jika BI tidak melakukan intervensi dan membiarkan Rupiah menguat tajam, maka hal itu bakal memukul kinerja ekspor nasional.

Fauzi mengatakan, banyak pelaku pasar menilai, dengan kondisi inflasi saat ini, BI harusnya sudah menaikkan BI rate. Namun, hal itu tidak dilakukan karena ada tekanan politis. "Itu pandangan pelaku pasar," terangnya.

Karena itu, menurut Fauzi, BI harusnya bisa lebih realistis dalam penanganan inflasi, yakni dengan menaikkan BI rate. Adapun terkait dampak membanjirnya dana asing akibat kebijakan tersebut, maka BI dan pemerintah bisa mencari strategi untuk mengarahkan dana-dana asing ke berbagai instrumen. "Misalnya, melalui IPO (initial public offering/penawaran saham perdana)," sebutnya.

Dalam kesempatan sama, Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono mengatakan, derasnya aliran modal asing memang menjadi concern BI. "Aliran modal ini bisa jadi tsunami modal," ujarnya.

Karena itu, kata Hartadi, BI terus mencari strategi untuk mengarahkan dana-dana tersebut dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang berjangka pendek, ke instrumen investasi jangka panjang. "Kita berupaya memperpanjang waktu lelang (SBI) dari mingguan ke bulanan, tenornya diperpanjang. Kita juga mengurangi beredarnya SBI di pasar uang kita gunakan term deposit, hanya bank-bank yang bisa menempatkan dan tidak bisa diperdagangkan," katanya. (owi/kim)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 14.12.2010,
        23:54
        dede priatna ( next Presiden )
        sebenarnya indonesia hrus bisa menaikan nilai rupiah lagi,.. 8500 masih rendah kembalikan kejayaan indonesia,. pasti bisa 1 USD = Rp.1 ,.