Anak-anak Migran Asal Indonesia Ikut Membentuk Wajah Australia di Masa Depan

Anak-anak Migran Asal Indonesia Ikut Membentuk Wajah Australia di Masa Depan
Galih Wigati Mosel (berdiri kanan) bersama keluarganya yang sekarang tinggal di Adelaide (Australia Selatan). (Foto: Supplied)

Galih yang sekarang berusia 23 tahun sedang menempuh pendidikan master di bidang 'occupational therapy' di Gold Coast, Queensland, namun keluarganya tinggal di Adelaide, ibu kota Australia Selatan.

Ibu Galih berasal dari Jawa, sedangkan ayahnya adalah warga kulit putih Australia.

"Kalau ditanya saya biasanya mengatakan kepada orang saya setengah Indonesia, setengah Australia," kata Galih dalam percakapan dengan wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya.

"Kalau kemudian saya harus menjelaskan lebih detil lagi, saya lahir dan dibesarkan di Indonesia, pernah tinggal di Arizona [Amerika Serikat] selama tiga tahun dan pindah ke Adelaide di usia 16 tahun," kata Galih yang rencana kembali ke Adelaide setelah selesai kuliah.

'Merasa beruntung berasal dari keluarga dengan latar belakang yang berbeda-beda'

Berasal dari keluarga dengan latar belakang etnis dan budaya yang berbeda, Galih mengatakan ia sempat merasa bingung dengan identitas dirinya dan malah terasa mengganggu ketika dia dibesarkan.

"Saya tidak pernah merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu," kata Galih.

"Namun keluarga saya secara teratur mengunjungi Adelaide ketika kami tumbuh, guna memastikan bahwa kami bisa merasakan tempat yang bisa disebut sebagai rumah."

"Sekarang setelah tinggal di Adelaide selama 7 tahun, saya merasa nyaman dan senang bisa menyebut Adelaide sebagai rumah saya."

Tanggal 26 Januari adalah hari libur nasional yang dikenal sebagai 'Australia Day' atau 'Hari Australia', sebuah hari yang paling kontroversial hingga saat ini

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News