Senin, 25 Maret 2019 – 19:40 WIB

Ancaman Pembunuhan Presiden Bukan Hal Baru

Selasa, 01 September 2009 – 02:25 WIB
Ancaman Pembunuhan Presiden Bukan Hal Baru - JPNN.COM

JAKARTA - Beberapa waktu lalu, pemberitaan media diramaikan dengan rencana pembunuhan terhadap Presiden oleh kelompok teroris jaringan Noordin M Top. Kapolri Jendral (Pol) Bambang Hendarso Dahuri mengungkapkan, ancaman itu sebenarnya bukan hal baru di Indonesia.
 
Berbicara pada rapat kerja Komisi I DPR dengan Kementrian jajaran Polhukam, Senin (31/8), Kapolri mengatakan, Indonesia pernah digemparkan dengan upaya pembunuhan Presiden Soekarno. "Ada upaya penggranatan terhadap Presiden Soekarno atau yang lebih dikenal dengan Peristiwa Cikini," ujar Kapolri.
 
Disebutkannya, ada garis yang menghubungkan pelaku peristiwa tersebut dengan upaya pembunuhan terhadap Presiden SBY baru-baru ini. Upaya pembunuhan Presiden Soekarno pada 30 November 1957 itu dilakukan oleh Ahmad Kandai, salah satu tokoh pemberontak Negara Islam Indonesia (NII) pimpinan SM Kartosuwiryo. "Ada pelemparan granat di Cikini oleh Ahmad Kandai. Ternyata putra Ahmad Kandai (Abdul Jabar) terlibat di Poso," sebut Kapolri.
 
Karenanya Kapolri meminta agar ancaman terhadap kepala negara itu tidak dipolitisir. Mantan Kabareskrim itu menegaskan, adanya foto SBY yang menjadi sasaran latihan menembak memang merupakan pesan bahwa teroris hendak melancarkan aksinya.
 
Kelompok teroris, lanjut Kapolri, memang berniat balas dendam terhadap SBY atas eksekusi terhadap tiga terpidana mati kasus Bom Bali yakni Amrozi Cs. "Foto Presiden (yang dijadikan sasaran tembak) itu memang tahun 2005 dalam latihan di Serang. Tetapi memang itu diperbanyak untuk menyebarluaskan pesan bahwa SBY jadi target untuk balas dendam atas eksekusi tiga bomber Bali dan atas 10 dosa demokrasi," tandasnya.
 
Hanya saja anggota Komisi I DPR meminta penjelasan rinci soal 10 dosa demokrasi, Kapolri menolak menjawabnya. "Nanti di sesi tersendiri saja," elaknya. Diakuinya, serentetan penangkapan terhadap para tersangka terosisme belum memecahkan masalah. Sebab, jaringan teroris bersifat clandestein.
 
Dalam jaringan itu terdapat wakala (kepala wilayah). Selain itu, sebut Kapolri, Noordin juga sudah dibaiat menjadi tandzim. "Tetapi demi kepentingan pengungkapan jaringan teroris, kita belum bisa ungkapkan apa itu tandzim. Satu langkah saja kita keliru, bubar semuanya," bebernya.
 
Kapolri juga mengungkapkan, Noordin telah memberi perintah agar aksi pemboman dipercepat. Dalam sebuah pertemuan di Kebumen pada 15 Mei 2009, Noordin memberi instruksi kepada Baridin, Syaifuddin Zuhri dan Ibrohim bahwa aksi pemboman harus dipercepat.
 
"NMT memberi tausiyah kepada Boim (Ibrohim) dan Baridin, amaliah harus dipercepat. Boim ahli perencana strategis. Ini semua clandestein," urainya.(ara/jpnn)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar