Rabu, 19 September 2018 – 16:12 WIB

Budaya Baku Pasiar, Indahnya Toleransi Antarumat Beragama

Selasa, 19 Juni 2018 – 06:06 WIB
Budaya Baku Pasiar, Indahnya Toleransi Antarumat Beragama - JPNN.COM

jpnn.com - Toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Manado, Sulut, selama ini terjaga dengan sangat baik, antara lain berkat budaya Baku Pasiar. Tak heran Manado aman dari isu-isu SARA yang memecah belah persatuan.

Mesya Mohamad - Manado

LEBARAN tidak hanya dirayakan warga muslim. Warga nonmuslim pun menyambut penuh sukacita. Hal itu ditunjukkan dengan sibuknya warga nonmuslim menyiapkan antaran saat lebaran.

Biasanya antaran ini berupa kue lebaran dan soft drink. Warga nonmuslim mengantarkan kue maupun minuman saat malam takbiran. Ada juga yang mengantarkan bahan makanan seperti ayam, ikan maupun daging sapi. Nantinya warga muslim yang mengolahnya untuk disajikan saat lebaran.

Saat lebaran tiba, warga nonmuslim ini mendatangi umat muslim yang berhari raya. Tidak hanya warga muslim yang pasiar (bertamu), umat nonmuslim pun sangat antusias.

Mereka biasanya diminta tuan rumah untuk makan bersama. Dari makan bersama itu keakraban makin kuat. Keakraban ini berlanjut saat Natal. Bila hari raya Natal tiba, warga muslim yang memberikan antaran pada nonmuslim. Jenis dan jumlahnya sama seperti yang diantar saat malam takbiran.

Begitu Natal, warga muslim balas pasiar ke rumah nonmuslim. Sama seperti saat lebaran, warganon muslim juga menyiapkan sajian makan bersama untuk tamu muslim. Agar tamu muslim nyaman dengan makanan yang disajikan, biasanya menunya semua halal dan dimasak oleh warga muslim.

Budaya baku pasiar (saling bertamu) dan baku antar makanan (saling antar makanan) tetap dipertahankan sampai sekarang. Warga Manado yang heterogen selalu menjaga kerukunan kehidupan beragama dengan cara sederhana tapi efeknya luar biasa.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar