Rabu, 21 Agustus 2019 – 22:40 WIB

Dana Noordin Dari Osama

Kamis, 20 Agustus 2009 – 08:46 WIB
Dana Noordin Dari Osama - JPNN.COM

JAKARTA - sebuah sumber di kepolisian mengungkapkan bahwa pendanaan Bom Marriott dan Ritz-Carlton beberapa waktu lalu tetap bersumber dari Osama Bin Laden. "Jalurnya bisa melalui Arab Saudi, dan kemudian lewat jaringan militan di Malaysia," kata sebuah sumber di kepolisian.
   
Dipercaya, dua orang yang ditangkap di kuningan pekan lalu, Ali Mohammad Abdillah dan Iwan Hendiansyah, mempunyai keterkaitan di bidang penyaluran pendanaan tersebut. "Hanya, sejauh apa perannya, kami masih mendalaminya," tambahnya. Sumber itu menyebutkan keduanya diamankan di Rutan Kelapa Dua untuk pemeriksaan lebih intensif.
   
Hal ini dibenarkan oleh salah seorang anggota JI senior yang tak mau disebutkan namanya. "Ini terutama setelah pendanaan serangan bom pasca Bom Bali I, " ucapnya, seraya mewanti-wanti namanya tak disebutkan. Sebelum Bom Bali I, pendanaan dari Al-Qaeda dilewatkan melalui Ali Ghufron dan Hambali, dua key person Jamaah Islamiyyah yang punya akses langsung ke Osama Bin Laden.
   
Kabarnya, untuk Bom Bali I, Osama Bin Laden mengirimkan dana sebanyak USD 30 ribu (sekitar Rp 300 juta). Padahal, dalam prakteknya, pelaksanaan Bom Bali I tersebut "hanya" menghabiskan sekitar Rp 160 juta-an. "Itu pun penggunaannya tergolong boros. Banyak item belanja yang seharusnya tidak dipakai," tuturnya. 
   
Setelah Bom Bali I di mana Muklas akhirnya tertangkap polisi dan Hambali ditangkap pemerintah AS, pendanaan sempat terhenti. Namun, bukan berarti berhenti total. "Karena setelah itu masih ada aliran dana yang mengalir," tambahnya.
   
Menurut sumber itu, pendanaan Bom Marriott 2003 dan Kedubes Australia 2004 tetap berasal dari Osama Bin Laden melalui jaringan ikhwan-ikhwan Malaysia. Menariknya, kabarnya pendanaan tersebut sebenarnya tidak khusus untuk serangan bom. Melainkan, untuk ucapan simpati dan uang bantuan untuk keluarga Tenggulun, Jombang. Karena pasca Bom Bali I, tercatat tiga orang bersaudara ditahan langsung. Yakni Ali Ghufron alias Muklas, Amrozi, dan Ali Imron.
   
Ditahannya ketiga tulang punggung keluarga tersebut jelas memukul ekonomi keluarga, dan uang tersebut kabarnya dimaksudkan Osama sebagai uang bantuan. Kabarnya, nilainya mencapai sekitar Rp 100 juta-an. Tapi, uang itu tak pernah sampai ke keluarga Tenggulun. Ali Fauzi, adik Amrozi, mengaku tak tahu menahu. "Tak pernah dengar soal itu, dan saya tak tahu," jawabnya, singkat.
   
Hanya, sebuah sumber di kepolisian menyebutkan bahwa uang tersebut digunakan untuk mendanai serangan Bom Marriott 2003 dan Kedubes Australia 2004. "Uang itu berasal dari sana (uang simpati Osama untuk keluarga Tenggulun, Red)," tandasnya.
   
Di bagian lain, sumber tersebut juga mengungkapkan bahwa dari penahanan Ali dan Iwan, polisi juga menyita sejumlah kecil bahan peledak dan rangkaian bom. Berdasar rangkaian bom tersebut, polisi mendapatkan keyakinan bahwa Ali dan Iwan mempunyai keterkaitan dengan jaringan baru yang diciptakan oleh Noordin Mohd Top. Karena bom tersebut identik dengan bom-bom yang ditemukan di kamar 1808 Marriott, di Cilacap, dan dalam penggerebekan di Jatiasih, Bekasi.
   
Sebuah rangkaian bom disebut identik bila ada kesamaan dari explosives (bahan peledak)-nya dan firing device (alat pemicu ledakan). Untuk bahan peledak, para pembuat bom dengan cara klandestin di Indonesia hanya satu pilihan, yakni black powder "dengan bahan utama potassium chlorat. "Karena inilah yang cukup mudah diperoleh di pasaran tanpa menimbulkan kecurigaan dan daya ledaknya cukup tinggi," kata seorang anggota senior JI yang tak mau disebutkan namanya.

Namun, sumber tersebut mengatakan bahwa yang membuat sebuah rangkaian bom itu identik adalah rangkaian pemicu firing device-nya. "Firing device-nya bisa diatur dengan timer, pakai remote control, pakai saklar, maupun pakai telepon genggam. Tapi, rangkaian pemicu itu lah yang tak bisa berbohong. Bila 'satu perguruan', maka rangkaian pemicunya pasti sama," tandasnya. Rangkaian pemicu itu sendiri berupa rangkaian elektronik yang terdiri dari kapasitor, IC, resistor, dan sejumlah komponen lainnya. Dan, bila 'satu perguruan', maka jumlah resistor, kapasitor, dan sebagainya pasti sama. "Ibaratnya, bila sudah cocok dengan hitung-hitungan rangkaian elektronika yang seperti ini, maka ngapain pindah ke hitungan yang lain. Karena resikonya besar," tambahnya.
   
Dan dalam bom yang ditemukan di Cilacap, Marriott, Jatiasih (Bekasi), dan di Kuningan, semuanya sama. Baik explosives maupun firing device-nya. "Sebenarnya, bila dirunut hingga ke bom Natal, sebenarnya sama. Tapi, khusus untuk pasca Bom Bali I, rangkaian pemicunya identik," ucap sebuah sumber di kepolisian. Dari penyelidikan polisi, rangkaian pemicu yang ada dalam kelompok teroris terbaru tetap menggunakan rangkaian "sang jenius" bomber asal Malaysia, Dr. Azahari.
   
Di bagian lain, sumber tersebut juga mengungkapkan bahwa pihaknya memang telah kehilangan "jejak" sang gembong teroris asal Malaysia, Noordin Mohd Top. "Memang tak sepenuhnya kehilangan jejak. Kami juga menemukan sejumlah petunjuk baru. Tapi, jujur saja, masih relatif jauh," tambahnya. Sumber tersebut menambahkan bahwa diduga kuat Noordin berada di kawasan jalur Selatan Jawa. Mulai dari Jogja, Cilacap, Ciamis, hingga Bandung. (ano)
SHARES
TAGS  
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar