Dekrit Mursi Pemicu Konflik

Dekrit Mursi Pemicu Konflik
Dekrit Mursi Pemicu Konflik
KAIRO – Keputusan Presiden Mesir Muhammad Mursi menerbitkan dekrit Kamis lalu (22/11) menuai kontroversi. Bentrok antara pendukung dan penentang dekrit presiden pun pecah di dua kota besar Mesir, Kairo dan Alexandria, Jumat lalu (23/11). Bentrok itu menjadi insiden kekerasan paling buruk sejak Mursi menjabat sebagai presiden pada 30 Juni lalu.

Protes terhadap kebijakan Mursi belum mereda. Aparat keamanan Sabtu (24/11) kembali terlibat bentrok dengan demonstran yang bertahan di Lapangan Tahrir, pusat Kota Kairo. Massa menolak dekrit Mursi karena dekrit tersebut memberi kewenangan dan kekuasaan lebih besar kepada presiden. Hal ini dinilai demonstran tak sesuai dengan spirit reformasi pasca-revolusi yang telah menggulingkan rezim otoriter Presiden Hosni Mubarak.

Namun, di hadapan para pendukungnya yang berkumpul di halaman istana presiden, tokoh 61 tahun itu membela keputusannya untuk menerbitkan dekrit tersebut. ’’(Dekrit) itu penting untuk mencegah kumbang perusak (kroni Hosni Mubarak, Red) menggerogoti negara ini,’’ tegas Mursi Jumat petang lalu. Berbekal dekrit tersebut, dia punya lebih banyak wewenang dalam pemerintahan. Termasuk, terlibat dalam proses hukum Mubarak.

Bertambahnya wewenang dan kekuasaan Mursi itu pun langsung memantik reaksi keras kelompok liberal dan sekuler. Mereka khawatir, Ikhwanul Muslimin yang tercatat sebagai pendukung utama presiden akan mendapatkan lebih banyak wewenang. Kelompok liberal dan sekuler tak ingin Mesir kembali jatuh ke tangan golongan tertentu, seperti saat Mubarak berkuasa.

KAIRO – Keputusan Presiden Mesir Muhammad Mursi menerbitkan dekrit Kamis lalu (22/11) menuai kontroversi. Bentrok antara pendukung dan penentang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News