Demonstran Penolak Tambang di Parimo Tewas Tertembak, 17 Polisi Diperiksa

Demonstran Penolak Tambang di Parimo Tewas Tertembak, 17 Polisi Diperiksa
Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Didik Supranoto saat memberikan keterangan di Parigi Moutong, Selasa 15/02. ANTARA/HO/ (Humas Polda Sulteng)

jpnn.com, PARIGI MOUTONG - Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) terus mendalami kasus tewasnya Erfadi dalam aksi demonstrasi menolak tambang di Parigi Moutong (Parimo) pada Sabtu (12/2) lalu.

Penyidik Polda Sulteng saat ini tengah melakukan uji balistik terhadap 20 senjata api yang diamankan saat unjuk rasa oleh penolak tambang di Desa Siney, Kecamatan Tinombo Selatan itu.

"Masuk tahap uji balistik setelah kami melakukan olah TKP," kata Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Didik Supranoto di Parigi Moutong, Selasa (15/2).

Dia menerangkan hasil uji balistik akan dicocokkan dengan proyektil yang ditemukan di TKP.

Selanjutnya, penyidik bakal menentukan pelaku yang terlibat dalam penembakan seorang demonstran yang diketahui warga Desa Tada itu.

“Propam sudah memeriksa 17 polisi, mengamankan 20 senpi, olah TKP dan uji balistik. Itulah yang saat ini Polda Sulteng lakukan," tutur Kombes Didik.

Perwira menengah Polri itu menyebut tim forensik telah mengambil 20 sampel dari 20 pucuk senjata api yang disita dari polisi, masing-masing 3 proyektil.

Dia memerinci jumlah sampel proyektil keseluruhan ada 60 butir yang dibawa ke laboratorium di Sulsel.

Sebanyak 17 polisi diperiksa tim Polda Sulteng bersama Bareskrim Polri terkait tewasnya demonstran penolak tambang di Parigi Moutong atau Parimo.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News