Selasa, 16 Oktober 2018 – 17:45 WIB

Diduga Ada Transaksi Liar, Kapal Overload

Selasa, 24 November 2009 – 18:54 WIB
Diduga Ada Transaksi Liar, Kapal Overload - JPNN.COM

JAKARTA - Tragedi karamnya Kapal Motor (KM) Dumai Express 10 milik PT Lestari Indoma Bahari dari Batam tujuan Dumai, Riau, di Perairan Yu Kecil Kabupaten Karimun Kepri, Minggu (22/11) lalu tak hanya menyisakan kegetiran. Departemen Perhubungan juga mulai menguak ada kejanggalan sebelum Dumai Expres 10 berlayar.

Dirjen Perhubungan Laut Departemen Perhubungan (Dephub) Sunaryo membeberkan temuan awal terkait tenggelamnya kapal motor rute Batam-Dumai itu. Dalam jumpa pers di Ruang Sriwijaya, di lantai 4 Gedung Departemen Perhubungan, Selasa (24/11) sore, Sunaryo mengungkapkan, ada indikasi bahwa pada menit-menit akhir menjelang melaut, ada transaksi jual-beli tiket di atas kapal.

Sunaryo menegaskan, dirinya sudah menegur pihak Kantor Pelabuhan (Kanpel). “Kanpel sudah saya tegur untuk masalah ini. Jika memang ada pejabat-pejabat terkait yang terbukti lalai dalam tugasnya maka akan ditindak, baik secara kedisiplinan maupun mutasi,” ujar Sunaryo.

Lebih lanjut dijelaskan Sunaryo, jika nanti Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memang menemukan bukti bahwa kapal tersebut melakukan penjualan tiket di atas kapal sehingga mengakibatkan kapal kelebihan beban (overload), maka bisa saja operator KM Dumai Ekspres diseret ke Mahkamah Pelayaran.

Namun dalam kesempatan itu Sunaryo juga membantah tudingan tentang simpang siurnya jumlah korban, termasuk adanya informasi yang menyebut 100 korban masih terperangap di dalam kapal naas itu. Dalam catatan Sunaryo, jumlah korban meninggal sebanyak 29 jiwa, sedangkan korban selamat 225 orang. 

Sunaryo merincikan, untuk evakuasi tujuan Dumai akan membawa 109 korban selamat dan 14 korban tewas. Sedangkan untuk evakuasi ke Batam akan membawa 103 korban selamat dan 5 jenazah. “Itu data hinga tadi pagi (kemarin) dan saat ini saat ini sudah dilakukan evakuasi korban ke Dumai dan Batam,” tandasnya.

Sunaryo menegaskan, dirinya sudah memerintahkan kapal KPLP yang membawa korban untuk melapor setiap 30 menit. Sesuai instruksi, kapal tersebut akan menyusuri pantai dan tidak masuk dalam laut bebas karena ketingian gelombang di perairan tersebut masih sekitar 2-3 meter.

Sunaryo mengakui sulitnya proses evakuasi. Karena itu Sunaryo mengapresiasi kinerja tim SAR maupun pihak-pihak lain yang langsung tanggap dan terlibat dalam proses evakuasi. “Tim SAR bekerja cepat dan dalam waktu singkat langsung turun ke lapangan untuk mengevakuasi korban. Bahkan seluruh instansi turun, termasuk kapal niaga,” katanya.(ara/jpnn)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar