Ditawari Banyak Fasilitas Australia, Bertekad sampai Mati Tetap Warga Indonesia

Ditawari Banyak Fasilitas Australia, Bertekad sampai Mati Tetap Warga Indonesia
LEGENDA RADIO AUSTRALIA: Nuim Khaiyath (kiri) menyambut hangat Jawa Pos di studio Radio Australia di Melbourne pekan lalu. -JAWA POS PHOTO-
Saat Jawa Pos berkunjung ke studionya di pusat Kota Melbourne, Australia, pekan lalu, sungguh mengagumkan, ternyata Nuim sudah sangat pantas disebut kakek. Meski bertubuh tinggi besar dan berperawakan tegap, dia dengan bangga menyebut umurnya akan mencapai 75 tahun, alias tiga perempat abad, pada 7 Desember nanti.

 

"Anda kaget, kan" Suaranya begitu, kok orangnya begini," ujar pria kelahiran Gang Bengkok, Medan, yang lebih suka dipanggil Pakcik Nuim itu, setelah berkenalan. "Makanya, saya paling takut kalau diajak bertemu muka dengan pendengar. Saya takut mereka kecewa," tambahnya dengan nada bercanda.

 

Nuim memang orang yang supel. Anak dari ayah keturunan Arab dan ibu keturunan Melayu Deli itu selalu menyambut gembira siapa saja yang mengunjungi rumah serta tempatnya bekerja. Bahkan, dengan Jawa Pos yang berumur kurang dari separo umurnya pun, dia memperlakukan seperti teman lama.

 

Kekaguman pada perkenalan pertama itu berlanjut saat Jawa Pos diajak menyaksikan bagaimana Nuim bersilat lidah di ruang siaran. Dengan suara renyahnya, penggemar sayur nangka itu fasih mengulas beragam topik. Mulai politik, ekonomi, sosial, budaya, dan olahraga.

 

Baik buruk hubungan dua negara tidak hanya ditentukan para politikus. Penyiar seperti Nuim Khaiyath justru mendapat tempat penting dalam hubungan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News