Eks KKO: Ada Sayatan Melingkar di Leher Jenderal Ahmad Yani

Eks KKO: Ada Sayatan Melingkar di Leher Jenderal Ahmad Yani
Vence Kandouw dan foto kenangan di rumahnya di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Foto: FREDY RIZKI/RADAR BANYUWANGI/JPNN.com

”Ini Serma KKO Saparimin, ini Prajurit Komando Satu Subekti, kalau yang ini Kopral RPKAD Anang. Yang dua ini teman saya yang masih hidup, Kopral KKO Sugimin dan Kopral KKO Samuri,” kata Vence sambil memegang foto-foto itu.

Sambil terus memegangi foto-foto tersebut, Vence memulai ceritanya sebelum ditugasi untuk mengangkut jenazah para jenderal Angkatan Darat yang dibunuh oleh PKI dalam tragedi 1965 itu.

Kala itu, sekitar akhir September 1965, Vence mengaku tengah mendapat perintah dari atasannya untuk melakukan pemeriksaan di sepanjang Pantai Ancol, Jakarta.

Vence yang merupakan anggota pertama dari Satuan Intai Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KKO) atau yang kini disebut Marinir, setiap hari melakukan penyelaman di pantai tersebut.

Dia ditugasi untuk memastikan Pantai Ancol adalah tempat yang layak untuk pendaratan kapal-kapal perang dan tank amfibi milik angkatan laut.

”Waktu itu Presiden Soekarno ingin melakukan show of force militer angkatan laut. Jadi, kita diminta memastikan kawasan itu aman. Dulu, Ancol lokasinya rawa-rawa! Jangan dibayangkan seperti sekarang,” kata Vence.

Tiba-tiba, di tengah malam tanggal 30 September sekitar pukul 23.00, Vence mendapat laporan dari salah satu rekannya jika ada banyak Angkatan Darat yang menggunakan seragam berseliweran.

Mereka pun heran dengan situasi itu, karena kala itu jika pasukan menggunakan seragam lengkap maka sedang ada operasi militer atau peristiwa penting.

Baru bisa masuk ke Lubang Buaya saat Soeharto datang. Saat jasad Jenderal Ahmad Yani diangkat, semuanya langsung bereaksi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News