Gara-gara Bilang Sontoloyo, Jokowi Dianggap Anti-Kritik

Gara-gara Bilang Sontoloyo, Jokowi Dianggap Anti-Kritik
Presiden Jokowi. (Foto: JPNN)

Heri menyatakan, setiap kebijakan adalah produk politik. Jika kemudian presiden memandang kritik tersebut sifatnya politis, dia sebenarnya sangat kasihan. Sebab, secara tidak langsung Jokowi sedang mempertontonkan ketidakpahamannya.

Kedua, jika kita melihat KBBI, kata sontoloyo adalah ungkapan makian. Untuk sebagian, bahkan mungkin sebagian besar, masyarakat, ungkapan itu jauh dari adab dan adat ketimuran.

Di tengah semangat demokrasi damai-sehat yang telah disepakati bersama, lanjut Heri, semestinya presiden yang juga sedang menjadi capres, dapat lebih hati-hati dalam memilih diksi. Karena itu sensitif.

"Hindari diksi yang menuduh bahkan provokatif. Ini kontradiktif dengan ajakan adu gagasan, adu konsep, adu program, yang selalu digaungkannya sendiri," katanya.

Heri mencatat, pada pekan lalu, misalnya, presiden juga mengungkapkan istilah politik kebohongan. Pada Agustus 2018, Jokowi juga mengungkapkan kepada relawannya ajakan kesiapan jika ditantang berantem.

"Kali ini politikus sontoloyo. Jika yang dipertontonkan presiden adalah wacana-wacana negatif seperti itu, kasihan sekali masyarakat. Membayar puluhan triliun bagi pemilu, untuk wacana demokrasi yang tidak berkualitas," tandasnya.(fat/jpnn)


Jika dilihat dari konteksnya, pernyataan tersebut jelas diarahkan Jokowi terhadap para pengkritik kebijakan dana kelurahan, yang baru saja diputuskannya.


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News