Glodok Makin Sepi, Sewa Kios Rp 3 Juta Per Bulan

Glodok Makin Sepi, Sewa Kios Rp 3 Juta Per Bulan
Ilustrasi Pasar Glodok. Foto: Ricardo/JPNN

Pedagang menganggap manajemen tak serius memberikan servis dan upaya supaya pasar bisa menjadi lebih baik.

”AC, eskalator, dan lampu-lampu di lorong sering mati. Tapi, ketika pedagang telat bayar service charge sehari saja, listrik langsung diputus,” keluh Ridwan, sang ketua paguyuban pedagang.

Ironisnya lagi, manajemen kerap menjatuhkan sanksi sepihak tanpa ada proses diskusi atau pendekatan persuasif.

”Ada yang telat beberapa bulan, tidak dikasih surat peringatan, tapi kios sudah disewakan ke pedagang baru tanpa persetujuan pedagang lama. Kami pun tidak pernah berdiskusi tentang program-program pasar. Padahal, kami sangat terbuka untuk bekerja sama supaya pasar bisa lebih ramai peminat,” ujar Ridwan.

Di sisi lain, manajemen pasar terkesan santai dan enggan pusing menanggapi keluhan pedagang.

”Ya pasar sepi karena lagi sepi aja. Yang laku ya laku aja. Kalau soal hak dan kewajiban kan sudah ada ketentuannya, yang melanggar pasti ada konsekuensinya. Tapi, kami terbuka kok kalau ada pedagang yang komplain. Mereka bisa hubungi saya kapan saja,” ujar Manajer PD Pasar Jaya untuk Pasar Glodok Henry Manurung.

Saat Jawa Pos berkunjung ke Pasar Glodok, ada sekitar lima titik eskalator yang mati dan belum kunjung diperbaiki.

Ditanya mengenai fasilitas-fasilitas pasar yang bermasalah, manajemen Pasar Glodok membantah bahwa mereka lepas tanggung jawab.

Meski makin sepi, Pasar Glodok masih menjadi andalan beberapa pedagang untuk menjual produknya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News