Humor Tinggi dan Marahnya Seorang Presiden Santun

Oleh Dahlan Iskan

Humor Tinggi dan Marahnya Seorang Presiden Santun
Humor Tinggi dan Marahnya Seorang Presiden Santun

Trump tidak kalah menghibur. Penampilannya di acara TV sangat disukai. Humornya juga brutal. Hanya gaya membawakannya lebih norak. Tidak pernah mau mengejek diri sendiri.

Dari ingatan media, Ronald Reagan, George W. Bush, dan Clinton termasuk yang suka melawak. Tapi, di antara semua itu, mereka sepakat Obamalah yang nomor 1.

Persiapan Obama tampak begitu baik. Meskipun tidak membaca, pidato lawakan itu ada teksnya. Slide-slide-nya juga brilian. Pakai film pendek segala. Obama tahu kapan berhenti sebentar dan kapan agak lama. Seorang pelawak profesional pernah diterima Obama. Dia mengatakan kadang Obama berhenti terlalu lama. ’’Saya tahu,’’ jawab Obama. ’’Saya sengaja.’’

Jadi, Obama memang mengatur penampilannya dengan sadar, dengan ilmu dan dengan latihan.

Tahun ini Obama mengakhiri pidatonya agak mengejutkan. Begitu mengucapkan kata penutup ’’God blessed America’’, tangan kirinya mengangkat mik tinggi-tinggi. Tangan kanannya membuat gerakan merokok di dekat bibirnya. Mik tersebut dia jatuhkan. Glodak.

Hadirin pun bergemuruh.

Sinyal apakah yang ingin dia gambarkan?

’’Sudah tidak ada mik lagi,’’ tulis seorang analis keesokan harinya. Itu berarti tidak akan ada lagi yang mengalahkan dirinya.

PRESIDEN Obama kembali jadi pelawak. Di depan forum tahunan wartawan Washington bulan lalu, gelak tawa tidak habis-habisnya. Seperti setahun sebelumnya:

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News