Ibu Merintih agar Anaknya Tak Ditahan

Ibu Merintih agar Anaknya Tak Ditahan
Ibu Merintih agar Anaknya Tak Ditahan
Julian Assange, mungkin, memang tidak takut pada apa pun. Dia tidak segan bermusuhan dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya saat membocorkan dokumen-dokumen rahasia Negeri Paman Sam itu. Tapi, di mata sang bunda, pria 39 tahun tersebut tetaplah seorang anak laki-laki yang harus dia lindungi.

"DIA
putra saya dan saya sangat menyayanginya. Saya tidak ingin dia diburu dan dijebloskan ke dalam penjara," ungkap Christine dalam wawancara dengan Australian Broadcasting Corporation di kediamannya kemarin (1/12). Saat interpol menerbitkan surat penangkapan terhadap Assange secara global, dia mengatakan sangat khawatir. Layaknya seorang ibu, penduduk Shire of Noosa, Sunshine Coast, Negara Bagian Queensland, Australia, itu tidak ingin melihat sang anak menjadi buron.

Apalagi, sebagai "musuh bersama" AS dan sekutunya, Assange tidak hanya diburu di satu negara. Kini, dia menjadi buron hampir di seluruh negara yang punya hubungan baik dengan AS. Terutama negara-negara yang tercantum dalam dokumen rahasia rilisan WikiLeaks. Misalnya, Pakistan, Tiongkok, Inggris, Rusia, dan bahkan Australia. Sebelumnya, hanya pemerintah Swedia yang memburu dia atas kasus pemerkosaan yang dituduhkan dua perempuan.

"Sebagai seorang ibu yang normal, saya sangat tertekan," aku Christine seperti dilansir Agence France-Presse. Terbayang di benaknya, kesulitan yang bakal dihadapi Assange. Sejak WikiLeaks lahir pada 2006, pria berambut putih itu tidak bisa menikmati kehidupan normal. Dia menjadi nomaden. Meski tercatat sebagai warga Australia, dia lebih banyak tinggal di Inggris dan Swedia. Kini, setelah pemerintah dua negara tersebut juga memburunya, Assange tidak bisa lagi berlama-lama di sana.

Julian Assange, mungkin, memang tidak takut pada apa pun. Dia tidak segan bermusuhan dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya saat membocorkan dokumen-dokumen

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News