Industri Daur Ulang Tidak Pernah Mendapatkan Insentif

Industri Daur Ulang Tidak Pernah Mendapatkan Insentif
Pemulung di Pintu Air Manggarai memilah sampah botol plastik. Foto: ANTARA/Laily Rahmawaty

Seharusnya, ini menjadi momen bagi industri daur ulang untuk tetap tumbuh mengingat ketersediaan bahan baku di lapangan.

Sayangnya, pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai strategi untuk memutus penyebaran Covid-19 mempengaruhi rantai ekonomi sirkular sehingga ikut terputus. Pasalnya, para pelapak yang biasanya membeli kemasan plastik dari pemulung tutup.

Akibatnya, para pemulung tidak dapat menjual kemasan-kemasan plastik yang menjadi sumber ekonomi bagi keluarga mereka.

Sementara, dari sisi industri daur ulang, pasokan bahan baku menjadi terhenti. Kondisi ini sekaligus menjadi tambahan beban bagi para pelaku usaha daur ulang, mengingat sebelumnya pun sudah harus bersaing dengan jatuhnya harga virgin plastik.

“Ekonomi sirkular bisa memperpanjang daur hidup kemasan. Beberapa kemasan yang bisa diperpanjang daur hidupnya antara lain kemasan PET, PE dan juga PP. Sebagai contoh, kemasan PET yang bisa didaur ulang menjadi rPET maka seharusnya tidak lagi disebut sebagai kemasan sekali pakai. Memperpanjang daur hidup kemasan turut membangun kesejahteraan banyak kalangan sekaligus mengatasi persoalan sampah di Indonesia,” ujar Karyanto.

Lebih lanjut, ia berharap semakin banyak industri yang sadar akan penggunaan kemasan daur ulang. Mengutip data Kemenperin saat ini terdapat 600 industri besar dan 700 industri kecil yang bermain di sektor industri daur ulang plastik.
Namun demikian, persentase pengolahan daur ulang yang ada masih sangat rendah. Menurut catatan Kemenperin, dari sebanyak 7,23 juta konsumsi bahan baku plastik dalam setahun, hanya terdapat 914 ribu atau sekitar 12,6% saja yang kemudian didaur ulang kembali.

Salah satu yang telah berkomitmen mendukung penggunaan kemasan daur ulang adalah Danone AQUA.

“AQUA terus memproduksi produk AQUA life menggunakan 100 persen bahan daur ulang rPET. Selain seluruh botol kemasan AQUA sudah mengandung sampai dengan 25% bahan daur ulang. Ini merupakan komitmen dari Danone AQUA untuk mendukung pengurangan sampah plastik melalui dukungan kepada ekosistim ekonomi sirkular,” jelas Arif Mujahidin, Communications Director Danone Indonesia. (esy/jpnn)

Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) mengeluhkan sikap pemerintah yang tidak memberikan insentif maupun kemudahan terhadap pelaku usaha.


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News