Kepakaran yang Hilang Bersama dengan Korban COVID di Indonesia

Kepakaran yang Hilang Bersama dengan Korban COVID di Indonesia
Nanang Indra Kurniawan (kiri) dan Bambang Purwoko di tahun 2010 di Sota, daerah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. (Foto: Supplied)

Menurut Rustamadji dari Satgas COVID-19 di Yogya, di kalangan dosen UGM saja sudah ada beberapa dokter yang meninggal dunia bersama dengan keahlian mereka yang sangat spesifik. 

"Di Fakultas Kedokteran saja sejauh ini yang meninggal ada seorang ahli mata, seorang ahli kanker, seorang ahli masalah kandungan, satu orang anestesi, dan satu orang ahli di bidang farmakologi dan epidemiologi klinik," katanya.

Bukan tenaga kesehatan lapis pertama saja

Dalam dua minggu pertama bulan Juli ini, varian delta virus corona yang sangat cepat menular telah menyebabkan 114 dokter di Indonesia meninggal dunia. Ini adalah jumlah kematian tertinggi yang dialami dokter sepanjang pandemi.

Namun, di balik kematian sejumlah tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan COVID-19, mereka yang bekerja di 'lapis kedua' di bidang kesehatan seperti dokter gigi, apoteker atau psikolog juga banyak yang terpapar COVID-19.

Taru Guritna adalah psikolog yang sedang mengerjakan disertasi doktoral, dan juga aktif sebagai pamong  atau mentor di pusat kepemimpinan Wijaya Karya di Jakarta sebagai konsultan untuk beberapa perusahaan.

"Saya termasuk penyintas COVID yang harus masuk ICU hampir dua minggu di bulan Februari lalu," kata Taru kepada ABC.

Taru mengatakan, selama pandemi dia terlibat dalam dua kelompok yang berusaha membantu para tenaga kesehatan dengan menyiapkan baju APD, memberikan makanan, serta membuat pelindung wajah untuk dibagi-bagikan ke berbagai rumah sakit.

"Saya tidak menyesal telah membantu jadi sukarelawan," katanya.

Sudah lebih dari 70.000 orang di Indonesia meninggal dunia karena COVID-19, di antaranya ada tenaga kesehatan dan kalangan profesional

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News