Kepruk Kendil

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Kepruk Kendil
Dhimam Abror Djuraid. Foto: Ricardo/JPNN.com

Kendil yang dibuat dari gerabah bakar makin sulit dicari. Para perajin kendil pasti sudah berguguran gulung tikar. Dulu, ketika kita masih kanak-kanak, kita sering dolanan dengan teman-teman sepantaran. 

Di bawah temaram rembulan kita main petak umpet, gobek sodor, dan permainan lainnya. Sambil bermain kita menyanyikan tembang-tembangan.

Konon, semua jenis dolanan dan tembangan itu ada makna filosofisnya. 

Orang-orang tua terdahulu sengaja menciptakan dolanan dan tembangan itu untuk mensosialisasikan nilai-nilai tertentu. 

Mereka ingin menginternalisasikan ajaran moral dengan cara yang mudah dan menyenangkan, supaya lebih mudah dihayati dan diingat sampai kapan pun. 

Pujangga Ranggawarsita, misalnya, menciptakan tembang ‘’Ilir-Ilir’’ untuk mengajarkan syariat Islam mengenai penyucian diri. Lagu-lagu itu pun dihafal oleh semua kalangan, tua muda, dan anak-anak.

Barangkali, kepruk kendil juga ada nilai filosofisnya. Kita tidak tahu. Seorang pengamat politik mempertanyakan mengapa permainan-permainan seperti kepruk kendail, balap karung, lomba lari kelereng, panjat pinang, masih dipertontonkan di acara agustusan, apa relevansinya dengan sejarah perjuangan kemerdekaan.

Yang jelas, rasanya sekarang ini permainan itu mencerminkan kondisi bangsa kita. Bangsa ini, persis seperti gambaran anak kecil yang sedang bermain kepruk kendil. Mata tertutup tak bisa melihat arah. Kita sering tersesat amat jauh dari sasaran.

Bangsa ini, persis seperti gambaran anak kecil yang sedang bermain kepruk kendil. Mata tertutup tak bisa melihat arah. Kita sering tersesat jauh dari sasaran.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News