Ketua PGRI: Sekolah Didirikan Bukan untuk Membela Palestina

Ketua PGRI: Sekolah Didirikan Bukan untuk Membela Palestina
Ketua PB PGRI Dudung Nurullah Koswara bicara soal Tunjangan Profesi Guru atau TPG. Foto: dok pribadi for JPNN

"Bahkan guru-guru yang tidak punya kompetensi pedagogik akan gagal mengajar dan mendidik," kata kepala SMA Negeri 1 Parungpanjang ini lagi.

Upaya pemerintah saat ini dengan menghadirkan program Guru Penggerak, Sekolah Pengerak, lanjutnya, ending-nya adalah melahirkan pelajar berkahlak mulia.

Tiada lain adalah mengupayakan semua sekolah dapat melahirkan Pelajar Pancasila.  

"Pelajar Pancasila bukanlah pelajar yang sejak masuk sekolah sampai diwisuda baik-baik saja," cetusnya.

Lebih lanjut dikatakan, sekolah adalah sebuah organisasi pembelajaran yang dipimpin kepala satuan pendidikan pembelajaran dan guru-guru pembelajar. Sebagai organisasi pembelajaran maka semua hal harus berwajah pembelajaran.

Anak yang nakal, sangat nakal dan hampir di luar batas adalah bagian dari tugas entitas guru dan kepala sekolah agar anak tetap dilayani dengan baik. Tentu dengan layanan variatif sesuai karakter anak.

"Mengajar anak yang sudah baik, pintar, cerdas dan lahir dari keluarga baik-baik sangatlah mudah," ucapnya.

Nilai ibadah sebuah pekerjaan, kata Dudung, tentu bisa dilihat dari kesulitan dan kompleksitas pekerjaannya. Mengajari anak yang autis dengan menghina bangsa Palestina adalah bagian dari ibadah tenaga pendidik untuk membimbing dan mengarahkannya agar lebih baik.

ketua PB PGRI Dudung Koswara mengkritisi sikap sekolah yang mengeluarkan siswa yang menghina Palestina

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News