Kisah Mas Tri, Di Jawa jadi Fotografer, Di Papua Jualan Es Dawet

Kisah Mas Tri, Di Jawa jadi Fotografer, Di Papua Jualan Es Dawet
Mas Tri dan Es Dawet Ayu. Foto: Radar Timika

Usaha asli Jawa ini memang berbeda jauh dari pekerjaan sebelumnya, baik dari segi penghasilan ataupun yang lainnya. Karena sebagai penjual es dawet ini, dia menjadi karyawan dari teman sekampungnya sehingga harus melakukan pekerjaan, mulai dari pembuatan sampai dengan berdagang keliling agar supaya bisa mendapatkan penghasilan lebih.

Pria yang saat ini tinggal bersama teman-temannya di Jalan Pendidikan, setiap harinya harus membawa gerobak es dawetnya di seputaran Jalan Budi Utomo hingga ke Jalan Yos Sudarso, tanpa memikirkan panas teriknya matahari demi menjajakan dagangannya.

Ayah satu anak ini bercerita, dirinya rela meninggalkan keluarga kecilnya di kampung halaman demi memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan memiliki harapan yang besar serta tekad yang kuat. Dan juga dia sangat mendapatkan dukungan dari sang istri, yang selalu berharap agar dia bisa dapat sukses di tanah orang. 

Sejak melangkahkan kaki di rantau, dia telah bertekad kuat untuk bisa meraih cita-citanya di rantau. Hal inilah yang membuatnya tidak pernah mengeluh dengan kondisinya di tanah orang. Justru semangat yang telah diberikan keluarga kecilnya, senantiasa menjadi penyemangat bagi dirinya untuk tetap bertahan di pulau paling ujung Indonesia ini. 

Dia pun bercerita tentang keistimewaan dari Es Dawet Ayu yang dia jajakan. Es dawet buatannya memakai gula Jawa yang memang didatangkan langsung dari Jawa, sehingga hal ini yang mencari ciri khas dari es dawet ini. 

Selain dari gulanya, gerobak es dawet ini juga didentik dengan khas Jawa. Seperti terdapat wayang di sudut atas kiri dan kanan gerobak tersebut.

Berjualan es keliling bagi dia bukanlah hal yang sulit, namun butuh kesabaran, karena setiap harinya dia harus keluar dari rumah sekitar pukul 10.00 WIT dan berakhir hingga pukul 17.00 WIT untuk menjajakan esnya.  

Sedangkan untuk pembuatan es dawet ini sendiri dimulai pukul 5.30 pagi. Penghasilan yang dia dapatkan pun per harinya rata-rata Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Namun begitu, dia juga sering mengalami berbagai kendala selama berjualan es dawet ini adalah di kala hujan, karena jika kondisi cuaca dalam keadaan hujan maka pembeli es berkurang. Sehingga dia bersama krunya harus mengurangi produksi penjualan dan hal tersebut berdampak pada pendapatannya. 

DUNIA fotografi dia tinggalkan. Penyakit yang menyerang bagian mata, membuat Ahmad Tri memutuskan banting setir demi melanjutkan kehidupan. 

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News