Rabu, 14 November 2018 – 16:09 WIB

Klem Penyambung Kabel Diduga Lemah

Jumat, 02 Desember 2011 – 05:35 WIB
Klem Penyambung Kabel Diduga Lemah - JPNN.COM

JAKARTA - Penyebab ambruknya jembatan Kartanegara di Tenggarong, Kaltim mulai sedikit terkuak. Kementerian Pekerjaan Umum telah membuat kesimpulan sementara tentang penyebab terjadi tragedi yang memakan puluhan korban jiwa tersebut.
 
Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, ambruknya jembatan pada 26 November lalu itu karena lemahnya klem penyambung antara kabel vertikal dan kabel utama. Namun, itu belum menjadi kesimpulan. Untuk kepastiannya, hingga saat ini masih diselidiki, apa faktor utama yang menyebabkan klem penyambung itu terlepas.

Menurut Djoko, setelah jembatan itu roboh, pihaknya melihat bahwa semua kabel jembatan utuh, tidak ada yang terputus. Baik itu kabel utama mau pun kabel penggantung vertikal.

"Jadi penyebabnya bukan masalah kabel. Kabel-kabel itu kan bantuan pemerintah pusat. Sudah lolos ujicoba terowongan angin di Monash University, Australia. Kabelnya sendiri buatan Kanada," ujarnya, Kamis (1/12)

Yang terlihat saat itu hanya koneksi antara kabel utama dan kabel penggantung (vertikal) lepas semua. Diduga, sambungan yang disebut sebagai klem (clamp) atau penjepit inilah titik lemahnya. "Sementara ini kesimpulannya sama dengan tim dari ITB yang menengarai itu (klem) titik lemahnya," katanya.

Dia menyebutkan, klem yang berfungsi sebagai konektor kabel vertikal dengan kabel utama ini seharusnya bisa menanggung beban hingga 210 ton. "Kondisi jembatan kalau pun padat, tapi tidak melebihi 210 ton, tidak ada masalah. Yang mau dilihat, apakah spesifikasi barang dari klem bahannya sesuai spesifikasi yang direncanakan? Ini yang lagi diteliti," ungkapnya.

Kalau memang penjepit atau klem yang dipergunakan sudah sesuai spesifikasi, maka faktor kedua yang bisa menyebabkan kabel putus adalah adanya gaya kejut. Kemungkinan itu juga sedang diteliti lebih lanjut. "Karena ada gaya mendadak tadi, ada kemungkinan bebannya berlebih secara tiba-tiba. Tapi ini masih akan diteliti di lab," tambahnya.

Pihaknya mengaku heran dengan kejadian tersebut karena pada saat peresmian tahun 2001 lalu kekuatan jembatan sudah diuji coba dengan memberikan beban langsung di atasnya. "Uji cobanya dengan menjejerkan truk-truk besar di atas jembatan sampai penuh. Saat itu tidak terjadi apa-apa," tegasnya.

Terkait siapa pihak yang harus bertanggung jawab, Djoko mengatakan hal tersebut belum dapat disimpulkan, karena masih harus dilakukan perhitungan dan bukti-bukti yang konkret. Sebab, secara teori, tanggung jawab tersebut dapat dilimpahkan dari sisi perencanaan, pemeliharaan, konstruksi, maupun pengoperasian. "Itu masih harus diperiksa secara detail agar tidak ada pihak yang dirugikan," jelasnya.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Kementerian Pekerjaan Umum akan membentuk Komisi Keamanan Jembatan Baja bentang panjang dalam waktu dekat. Tugasnya adalah mengaudit seluruh keamanan jembatan panjang yang ada di Indonesia saat ini.

"Draft tentang pembentukan komisi sedang dibentuk. Sambil menunggu terbentuknya itu, tim akan mengecek dan mengaudit seluruh jembatan panjang di Indonesia," jelasnya. (wir/nw)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar