Senin, 17 Juni 2019 – 05:39 WIB

Korut Ancam Tutup Akses ke Kaesong

Kamis, 27 Mei 2010 – 02:31 WIB
Korut Ancam Tutup Akses ke Kaesong - JPNN.COM

PATROLI - Seorang petugas penjaga perbatasan Korut (dengan Korsel) sedang berpatroli. Foto: Jacky Chen/Reuters.

SEOUL - Ketegangan dua Korea kian memuncak. Rabu (26/5) kemarin waktu setempat, Korea Utara (Korut) mengancam segera menutup akses jalan ke kawasan industri Kaesong, jika Korea Selatan (Korsel) melanjutkan metode propagandanya. Selama ini, Seoul sendiri memang sengaja tetap membuka kawasan industri bersama yang berada di perbatasan itu.

Media Korut melaporkan, Pyongyang sedang mempertimbangkan rencana untuk menutup jalan yang menghubungkan wilayahnya dengan kawasan industri Kaesong. Padahal, jalan tersebut juga merupakan satu-satunya akses dari Korsel menuju kawasan industri yang menjadi sumber pendapatan sebagian besar warga Korut itu. Artinya, dengan menutup akses ke Kaesong, Korut mempertaruhkan perekonomiannya sendiri.

"Korut tidak akan menutup akses ke Kaesong dalam waktu dekat. Mereka pasti akan mempertahankan kartu yang mereka miliki untuk bisa tetap bermain-main dengan Korsel," ujar Jang Cheol-hyeon, pakar dari Institute for National Security Strategy, seperti dikutip Reuters. Selama ini, Seoul membayarkan gaji para pekerja Korut langsung ke pemerintah. Konon, jumlahnya mencapai puluhan juta dolar per tahun.

Indikasi bahwa Korut hanya menggertak itu menguat, dengan tetap dibiarkannya para pekerja melintasi perbatasan menuju Kaesong kemarin. Aktivitas di perbatasan pun masih tetap normal. "Korut tidak mungkin gegabah. Mereka akan mempertimbangkan kembali ancamannya, sebelum benar-benar menutup Kaesong dan menderita kerugian yang sangat besar," lanjut Jang.

Senada dengan para pengamat politik Korea yang lain, Jang pun yakin Korut dan Korsel tidak akan benar-benar berperang. Dua negara Asia Timur yang bertetangga itu, diramalkan hanya akan saling menebar psy-war. Sejak menyepakati gencatan senjata pasca Perang Korea (1950-1953), secara teknis, Korsel dan Korut masih terus berperang. Apalagi, Korut tidak pernah mengakui garis demarkasi yang ditetapkan PBB menjadi menjadi batas wilayah dua Korea.

Kemarin, militer Korut kembali melontarkan ancamannya soal aksi militer. "Pasukan Korsel yang mirip boneka perang sebaiknya lebih hati-hati dalam bertindak. Camkan dalam benak kalian bahwa KPA (Tentara Rakyat Korea atau Inmun Gun) tidak sekadar omong kosong," papar seorang petinggi militer Korut yang tidak disebutkan namanya, seperti dilansir kantor berita KCNA.

Meski penutupan akses ke Kaesong masih ditunda, kemarin Korut memutuskan seluruh saluran komunikasi dengan Korsel. "Korut juga mengusir delapan pejabat pemerintah Korsel yang bertugas di kawasan industri Kaesong," terang Kementerian Unifikasi Korsel dalam pernyataan tertulis, seperti dilansir Associated Press. Sayangnya, Korsel tidak merilis nama delapan pejabat yang diusir itu.

"Korut harus minta maaf atas apa yang telah diperbuat atas (kapal) Cheonan dan memberikan hukuman setimpal kepada mereka yang bertanggung jawab atas insiden tersebut," tandas Jubir Kementerian Unifikasi Korsel, Chun Hae-Sung. Sayangnya, lanjut dia, Korut malah menanggapi tuntutan maaf Korsel itu dengan ancaman-ancaman.

Sementara itu, di ujung lawatan Asia-nya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton berkunjung ke Seoul kemarin. Di negeri sekutunya itu, perempuan berusia 61 tahun tersebut kembali menegaskan dukungan AS terhadap Korsel. Dalam kesempatan itu, dia juga menghimbau Korut untuk menghentikan seluruh aksi provokatif dan ancaman militer mereka.

"Aksi provokatif Korut ini tidak bisa dibiarkan. Masyarakat internasional punya kewajiban dan tanggung jawab untuk menanggapi aksi ini," tandas mantan first lady Negeri Paman Sam itu, seperti dikutip Agence France-Presse. Menurut Clinton, langkah Korsel mengadukan aksi Korut ke Dewan Keamanan (DK) PBB sudah tepat. Dia berharap, Tiongkok yang merupakan sekutu dekat Korut sekaligus anggota tetap DK PBB, juga bisa mendukung langkah Korsel tersebut. (hep)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar