Krisis Nuklir Jepang Makin Parah

Krisis Nuklir Jepang Makin Parah
Krisis Nuklir Jepang Makin Parah
SENDAI - Krisis nuklir Jepang semakin pelik. Pemerintahan Perdana Menteri (PM) Naoto Kan pun repot. Radiasi tinggi yang mencemari air, memaksa para pekerja di PLTN Fukushima Daiichi menghentikan proses perbaikan reaktor. Kemarin (29/3), para pakar menemukan kandungan plutonium pada tanah sekitar reaktor.

"Gempa bumi, tsunami dan insiden nuklir ini merupakan krisis paling parah yang melanda Jepang dalam beberapa dekade terakhir," ungkap Kan dalam siaran televisi nasional. Pemimpin 64 tahun itu juga mengakui bahwa dampak krisis nuklir yang sampai sekarang masih masih berlangsung itu tidak bisa ditebak. Tapi, dia optimistis, pemerintahannya bakal mampu mengatasi krisis tersebut.

"Kami akan berjuang keras agar bisa lepas dari krisis ini. Kami juga akan terus melakukan pengawasan maksimal terhadap krisis yang terjadi," lanjut Kan yang kemarin mengenakan jaket berwarna biru. Pasca terjangan tsunami di pesisir timur laut Jepang pada 11 Mei, jaket biru menjadi semacam seragam bagi para diplomat dan pejabat pemerintah.

Saat ini, krisis nuklir yang memaksa permukiman sekitar 20 kilometer dari reaktor tak berpenghuni itu menjadi prioritas utama pemerintahan Kan. Apalagi, akhir pekan lalu, Tokyo Electric Power Co. (TEPCO) angkat tangan. Pengelola PLTN yang terletak di Kota Okuma dan Futaba itu mengaku tidak sanggup lagi mengatasi krisis nuklir sendirian. Karena itu, mereka lantas minta bantuan Prancis. Terkait hal tersebut, Presiden Nicolas Sarkozy dijadwalkan tiba di Jepang besok (31/3).

SENDAI - Krisis nuklir Jepang semakin pelik. Pemerintahan Perdana Menteri (PM) Naoto Kan pun repot. Radiasi tinggi yang mencemari air, memaksa para

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News