Manuver Golkar Harus Dicermati

Manuver Golkar Harus Dicermati
Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. Foto: dok.JPNN

Karena sadar pileg kurang diminati, mereka mencari cara untuk jualan partainya dengan cara menonjolkan tokoh-tokohnya. WIN-HT misalnya, itu susah. Tapi mereka ini punya resources, punya uang, punya media. Ini mereka lakukan karena tahu di pileg mereka tidak menarik.

Soal koalisi, apa bisa terjalin dengan basis kemiripan ideologi, seperti dikatakan Jokowi, jika jadi presiden tidak akan sembarangan membangun koalisi. Komentar Anda?

Saya masih meragukan koalisi bisa terbangun dengan kesamaan ideologi, karena ideologi partai juga masih kabur. Tapi paling tidak, pengalaman buruk koalisi dengan bagi-bagi kursi kabinet, akan menjadi pelajaran penting bagi siapa pun presiden yang nantinya terpilih. Koalisi nantinya tak sedangkal yang seperti sekarang, mereka pasti akan lebih selektif.

Di mana posisi partai Islam?

Partai ideologis dalam pengertian formal, seperti PPP, PBB, dan PKS, saya yakin juga tidak gampang membuat blok-blok sendiri. Mereka sendiri masih ragu. Kalau mereka didesak, tetap saja bilang partainya inklusif. Jadi mereka bisa merapat ke mana saja. Antarpartai masih akan terjadi transaksional.

Yakin pilpres lebih menarik dibanding pileg?

Ya, dan sudah pasti pileg dan pilpres tak nyambung. Perolehan suara pileg tak berkorelasi positif dengan perolehan suara pilpres. Bisa saja orang memilih partai A, tapi saat pilpres memilih capres dari partainya B. Orang memilih Golkar, belum tentu memilih Ical saat pilpres. Perolehan suara pileg hanya menjadi syarat formal pengajuan capres.

Bagaimana Anda melihat Demokrat yang belum juga mengumumkan capres hasil konvensinya?

PEMILU legislatif 9 April sudah ada tanda-tanda kalah pamor dengan pilpres Juli mendatang. Hiruk pikuk panggung politik lebih dominan soal pencapresan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News