Nikmatnya Kopi Asiang di Pontianak, Dikenal Sejak 1958

Nikmatnya Kopi Asiang di Pontianak, Dikenal Sejak 1958
Prosesi ketika Asiang mengolah kopi di Warkopnya, di Jalan Merapi Pontianak. Foto: Djunaini KS/Rakyat Kalbar

Seorang pengunjung tetap Warkop Asiang, Muhammad Ilham, mengaku rajin mengunjungi sejak 2010. “Pertama, saya memang suka kopi. Kedua, karena memang kopi di sini enak, lebih enak dari tempat lain,” ujarnya setelah menyeruput kopi di warkop Asiang, Jumat (13/1).

Citarasa kopi memang jadi alasan Ilham rutin nongkrong di Asiang. “Dahulu yang ngopi di sini cuma bapak-bapak, anak mudanya belum ada,” kisah dia, yang setidaknya tiga kali sepekan ngopi di situ.

Selain urusan selera, ngopi juga jadi urusan sosial. Warkop Asiang adalah tempat Ilham bertemu dengan rekan-rekannya. Baginya, ngopi dan ngobrol adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Itu pula yang membuat warkop Asiang jadi begitu terkenal.

“Kalau datang ke sini tetap pasti ada teman yang dikenali dan bisa ikutan gabung. Ngopi di Asiang jadi gaya hidup, orang kalau mau ngopi ya harus ke Asiang”.

Dahulu, warkop itu lebih kecil karena hanya ruko satu pintu. “Mejanya juga lebih sedikit dan dulu belum ada iklan yang endorse,” ungkap Ilham.

Yah begitulah, kalau dahulu yang nongkrong di Asiang hanyalah bapak-bapak, kini anak-anak muda pun menjadikannya tongkrongan favorit. Setidaknya sejak 2012 lalu hingga kini. Padahal, warkop tersebut tak menyediakan fasilitas internet gratis dan hanya buka dari subuh hingga pukul 12.00-14.00 saja.

Latar belakang pengunjung juga beragam. Dari pejabat hingga murid sekolah. Sabtu dan Minggu tidak sulit menemukan anak-anak usia SMP dan SMA yang menikmati kopi. Pun melihat perempuan nongkrong di warkop Asiang kini bukan sesuatu yang asing. “Karena orang dulu kan sering aneh, menganggap perempuan kok ngopi di warung kopi, tapi di sini itu sudah biasa,” tutur Asiang.

Beberapa tamu rutin melihat kini banyak yang berubah dari saat pertama datang ke Asiang dulu. “Yang pasti harga kopinya udah naik,” selorohnya lagi. (iman santosa/ambrosius junius)


Dahulu kala, minum di warung kopi mungkin hanya sekadar menghangatkan perut, mengganjal kantuk, lebih asyik berkumpul sesama teman untuk berbual.


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News