Omzet Bengkel Pesawat Rp 6,75 T

Omzet Bengkel Pesawat Rp 6,75 T
Omzet Bengkel Pesawat Rp 6,75 T
Akibatnya banyak perusahaan MRO yang kemudian mencari pinjaman ke lembaga keuangan lain, maupun bank asing meskipun pada umumnya mereka mematok bunga yang lebih tinggi. "Ketika ada bank yang mau memberikan kredit, mereka meminta bangunan fisik sebagai agunan. Padahal aset terbesar bisnis ini adalah fasilitas peralatannya, tetapi ditolak karena sifatnya tidak liquid. Akibatnya, dana kredit yang dikucurkan pun sangat kecil sekali," terangnya.

 

Selain itu, bank juga bersikukuh agar kontrak pengerjaan dijadikan sebagai agunan. Sementara menurut Richard, kontrak pengerjaan dalam bisnis ini sulit untuk dijadikan sebagai jaminan seperti bisnis lain karena pengguna jasa bisa dengan sewaktu-waktu memutuskan kontrak kerja mereka dengan bengkel ketika mereka merasa tidak puas. "Itu kenyataannya, meskipun sampai saat ini belum ada kasus seperti itu di Indonesia," tukasnya.

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Udara Kemnterian Perhubungan, Herry Bakti mengungkapkan, industri penerbangan cukup memiliki ketergantungan besar pada peran bengkel-bengkel perawatan. Karena bengkel-bengkel itulah yang bisa memberikan jaminan terpenuhinya unsur keamanan dan keselamatan, serta kenyamanan dari setiap pesawat yang dioperasikan. "Ini akan terus meningkat sejalan dengan upaya maskapai menambah armada," tuturnya.

Pihaknya mengakui bahwa bisnis bengkel pesawat itu masih terkendala masalah pendanaan. Oleh karena itu, pemerintah akan membantu bengkel-bengkel perawatan pesawat untuk meyakinkan dunia perbankan. "Kita akan bantu menjelaskan kepada perbankan tentang prospek bisnis ini, karena perbankan itu kan sederhana saja. Target mereka cuma satu, yang penting uangnya kembali," jelasnya. (wir/aj/jpnn)

JAKARTA - Omzet perawatan seluruh pesawat yang ada di Indonesia pada tahun 2009 mencapai USD 750 juta (sekitar Rp 6,75 triliun). Sayangnya, yang


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News